PENDEKATAN FIFOLOGIS DAN SEJARAH DALAM STUDI ISLAM

Saturday, July 23, 2016 Diposkan oleh Ridwan Tanjung 0 komentar
A. Pendahuluan
            Islam telah menjadi kajian yang menarik banyak minat belakang ini, Studi Islam pun kini makin berkembang. Islam tidak lagi dipahami dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian  petunjuk formal tentang bagiamana seorang memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian dari perkembangan dunia. Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, tetapi dibutuhkan metode dan pendekatan. 
            Pada dasarnya untuk mengkaji Islam diperlukan semacam pendekatan yang mampu menjelaskan dari sisi mana Islam dilihat. Untuk itu perlu seperangkat metodologi atau pendekatan agar studi Islam lebih dapat dikaji secara objektif. Agam Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin.Di dalamnya terdapat terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti seluas-luasnya. Seiring perubahan waktu dan perubahan zaman, agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara efektif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambing kesalahan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah. 
            Melihat kenyataan semacam itu, maka diperlukan rekontruksi pemikiran kagamaan, khususnya berkaitan dengan pendekatan-pendekatan filologis dan sejarah.Studi Islam dituntut untuk membuka diri terhadap masuknya dan digunakan pendekatan-pendekatan yang bersifat objectif dan rasional. Pendekatan yang diterapkan dalam mempelajari suatu masalah amatlah penting untuk mengetahui derajat keilmuan studi yang dihasilkannya dalam hal ini tidak terkecuali masalah studi dalam Islam. 
B. Pengetian Filologis 
                 Secara etimologis, filologis berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti "cinta'' dan logos berarti "kata". Dengan demikian, kata filologi membentuk arti "cinta kata" atau "senang bertutur" Arti tersebut kemudian berkembang menjadi "senang kasustraan atau senang kebudayaan. 
                Pendekatan filologi dalam pengkajian Islam sudah dikenal cukup lama. Pendekatan ini sangat populer bagi para pengkaji agama terutama ketika mengkaji naskah-naskah kuno peninggalan masa lalu. Kerena obyek dari pendekatan fifologi ini adalah warisan-warisan keagamaan,berupa naskah-naskah klasik dalam bentuk manuskrip. Naskah -naskah klasik itu meliputi berbagai disiplin ilmu; sejarah, teologi, hukum, mistisme dan lain-lainnya yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan belum dimanfaatkan di Negera-negara muslim. Alat untuk mengetahui warisan-warisan intelektual Islam itu adalah bahasa, seperti bahasa Arab, Persia, Turki dan Urdu. 
               Filologi selama ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan. Studi terhadap karya tulis masa lampau dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam peninggalan aliran terkadung nilai-nilai yang masih relavan dengan kehidupan masa kini. 
                Pendekatan filologi atau literal dalam studi Islam meliputi metode tafsir sebagai pendekatan filologi terhadap alqur'an dalam menggali makna yang dikandungnya, pendekatan filologi terhadap hadist atau sunnah Rasul dan pendekatan filologi terhadap teks-teks klasik (hermeneutika) yang merupakan refleksi kebudayaan kuno dalam tulisan-tulisan para intelek di masanya. Dalam menerapkan pendekatan-pendekatan ini juga membutuhkan pendekatan atau metode lain sesuai dengan disiplinnnya, seperti sastra, dan filologis. 
C. Pengertian Sejarah dalam Studi Islam
               Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohom) dan dari kata history dalam bahasa inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia.
             Melalui pendekatan ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan dengan penerapan suatu peristiwa. Pendekatan sejarah ini amat diperlukan dalam memahami agama karena agama itu turun dalam situasi konkrit, bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam, hal ini Islam menurut pendekatan sejarah ketika ia mempelajari Al-quran sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al-quran itu terbagi menjadi bagian, yaitu konsep dan kisah sejarah. 
              Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai sekarang. Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti bukan tidak ada unsur empiruisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan. Jika pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan gejala-gejala agama dengan menelusuri sumber dimasa Islam, maka pendekatan ini bisa didasarkan kepada personal historis atau perkembangan kebudayaan pemeluknya. Pendekatan semacam ini berusaha untuk menelusuri awal perkembangan tokoh keagamaan secara individual, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sesuai dialog dengan dunia sekitarnya, serta mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekataan sejarah pada akhirnya akan membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan kelompok-kelompok keagaaman. 
             Bersamaan dengan pendekataan filologis, pendekataan kesejahteraan juga sangat dominan dalam tradisi kajian islam modern. Kajian terhadap naskah-naskah klasik keislaman telah merangsang mereka untuk mengoperasikan pendekatan kesejarahan berdasarkan dokumen-dokumen yang telag ada. 
D. Tujuan dan Kegunaan Filologi 
             Secara umum fifologi bertujuan untuk menertibkan, menyunting, menyunting dan menganalisis suatu naska kuno. Tentu dalam hal ini sangat memerlukan disiplin-disiplin ilmu lainnya, seperti sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah agama, dan secara praktis penelitian filologi dilakukan untuk tujuan menunjang ilmu-ilmu lain. Sedangkan secara metodologis dilakukan kerana banyaknya naskah kuno yang masih harus diuji otentitasnya isi kandungan atau teksnya. Pengujian otentitas atau kemurnian suatu teks harus dilakukan secara cermat dan kritis terhadap semua varian yang terdapat dalam teks, yang dimaksudkan agar dapat menghasilkan suatu teks yang mendekati aslinya. 
               Kemungkinan varian teks dalam berbagai naskah dapat dilihat dari riwayat kemunculan teks itu sendiri. De Haan berpendapat bahwa proses terjadinya teks ada beberapa kemungkinan, sebagai berikut : 
1.Aslinya ada dalam ingatan pengarang, dan apabila seseorang ingin memilki teks itu dapat menulisnya    melalui dikte. Maka setiap teks diturunkan (ditulis) dapat bervariasi, dan perbedaan teks adalah bukti dari berbagai pelaksanaan penurunan dan perkembangan cerita sepanjang hidup pengarang. 
2. Aslinya adalah teks tertulis kurang lebih merupakan kerangka yang masih memungkinkan atau memerlukan kebebasan seni. 
3. Aslinya merupakan teks yang tidak memungkinkan untuk diadakan penyempurnaan karena pengarangnya telah menentukan pilhan kata yang ketat dalam bentuk literer. Hal ini pada zaman sekarang yang sudah ada mesin fotocopy tidak begitu merupakan kendala, tetapi pada zaman dulu sebuah naskah diperbanyak dengan cara menulis ulang dengan tangan resiko kesalahan sangat dimungkinkan. Beberapa kesalahan disebabkan antara lain; penyalin kurang memahami bahasa atau pokok persoalan naskah yang disalin, atau mungin karena tulisannya kurang jelas (kabur/buram), atau karena ketidak telitian penyalin sehingga beberapa huruf hilang (haplografi). 
           Sedangkan secara rinci dapat dikatakan bahwa fifologi mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus, diantaranya adalah : 
1. Tujuan umum : 
     a.   Memahami sejauh mana perkembangan suatu bangsa melalui sastranya, baik tulisan maupun lisan. 
     b. Memahami makna da fungsi teks bagi masyarakat penciptanya
     c. Mengukapkan nilai-nilai budaya lama sebagai alternatif pengembagannya. 
           Sedangkan kegunaan dari hasil penelitian fifologi adalah sebagai suatu informasi yang sangat berharga bagi khalayak umum dan dapat digunakan oleh cabang-cabang ilmu lain, seperti sejarah, hukum, agama, kebahasaan, kebudayaan. Nabila Lubis yang mengutip perkataan Haryati Soebadio bahwa fifologi adalah pekerjaan kasar yang menyiapkan suatu naskah untuk bisa dipergunakan oleh orang lain dalam berbagai disiplin ilmu. Jadi hasil dari penelitian naskah merupakan sumbangan pemikiran yang sangat berarti, terlebih dalam rangka memperkenalkan buah pikiran para pendahulu, sehingga dapat di kenal dan diketahui oleh generasi berikutnya.
E.   Pendekatan Sejarah Dalam Intitusi Keislaman
           Islam berkembang sebagai agama yang memiliki kandungan nilai-nilai ilmiah, rasional dan mistik. Hal tersebut karena perkembangan ini membawa dampak pada aspek lain, di antaranya pada pembentukan intistusi-institusin Islam. Secara politis, pada masa awal Islam merupakan kepemimpinan yang dipilih melalui primus interpares, bukan kekuasaan turun temurun seperti kerajaan.
          Secara antropologis, dalam pengaturan untuk memenuhi kebutuhan akan pemuas seksual, masyarakat Muslim membentuk lembaga pernikahan. Dalam ajaran Islam, pernikahan merupakan intitusi sakral, tidak hanya dianggap sebagai upacara rutinitas, namun memiliki nilai ibadah seorang Muslim menikahi bukan bukan semata-mata memenuhi kebutuhan seksual, melainkan beribadah juga. Dalam aspek ritual, haji muncul sebagai intitusi Islam di situ akan ada tempat ibadah. Puasa, sebagai ibadah yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya Islam, menjadi institusi yang mewarnai aktifitas tahunan umat Islam selama satu bulan. Zakat sebagai lembaga ekonomi dalam Islam merupakan karakteristik khas institusi dalam Islam sekalipun belum secara optimal pemanfaatannya bagi umat Islam.
F. Pendekatan Sejarah dalam Kecamata Kitab Suci
            Salah satu pedoman hidup dalam beragama adalah kitab suci, kitab suci agama Islam adalah Al-Qur'an. Sebagai simbol keabsahan suatu agama dan pedoman bagi para penganutnya, Islam memiliki nilai yang tinggi bagi para penganutnya. Keyakinan ini sepertinya masih salah dipahami oleh orang-orang Barat, terutama mereka yang masih terpengaruh oleh doktrin lama agama mereka, yakni agama Yahudi dan Agama Nasrani
.              Pada awalnya, Yahudi dan Nasrani tidak mengakui sebagai wahyu Allah SWT. Penolakan ini terjadi dan dilakukan oleh sarjan-sarjana Barat terhadap sikap Maurice Bucaile disaat memperlakukan sama dan sejajar antara Al-Quran dengan kitab-kitab terdahulu sebagai wahyu yang tertulis. Studi Al-Quran yang dilakukan sarjana Barat pada dasarnya terfokus pada persoalan-persoalan kritis yang mengelilingi kitab suci orang Islam ini. Persoalan-persoalan tersebut seperti pembentukan teks Al-Quran, kronologi turunnya Al-Quran, sejarah teks, variasi bacaan, hubungan antara Al-Quran dengan kitab sebelumnya, dan isu-isu lain seputar itu. Kesalah pahaman orang-orang Barat terhadap Islam memiliki dasar sentiment, fanatisme dan sikap ketidak adilan. Hal ini terungkap saat dibukanya dokumen "Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan Umat Islam.
G. Manfaat Sejarah dalam Studi Islam 
             Sejarah dalam studi Islam sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dari situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan, yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan sejarah sebagai salah satu alat untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.
              Pentingnya pendekatan ini, mengingat karena rata-rata disiplin keilmuan dalam Islam tidak terlepas dari berbagai peristiwa atau sejarah. Baik yang berhubungan dengan waktu, lokasi dan format peristiwa yang terjadi. Melalui sejarah dalam studi Islam dikemukakan berbagai manfaat yang amat berharga, guna merumuskan secara benar berbagai kajian ke Islaman dengan tepat berkenaan dengan suatu peristiwa, Dari sini, maka seorang tidak akan memahami agama keluar dari Konteks historinya. Seorang yang ingin memahami Al-Quran secara benar maka ia harus mempelajari turunnya Al-Quran (Asbab-Nuzul) dengan demikian ia akan dapat mengetahui hikmah yang terkadung dalam suatu ayat berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syari'at dari kekeliruan memahaminya.
              Mengingat begitu rasanya peranan sejarah ini, diharapkan dapat melahirkan semangat keilmuan untuk meneliti lebih lanjut beberapa peristiwa yang ada diharapkan penemu-penemuan ini akan lebih membuks takbir kedinamisan dalam mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan yang lebih layak sesuai dengan kehendak syara; sejarah memiliki cara tersendiri dalam melihat masa lalu guna menata masa sekarang dengan akan datamg.  
H. Penutup
               Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, fifologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti "cinta" dan logos yang berarti "kata" Dengan demikian, kata fifologi membentuk arti "cinta kata" atau "senang bertutur". Arti tersebut kemudian berkembang menjadi "senang belajar" dan "senang kasustraan atau senang kebudayaan. Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal dari Bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata history dalam bahasa inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari kata Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khusunya manusia.
                Sedangkan secara rinci dapat dikatakan bahwa fifologi mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus, diantaranya adalah :
1. Tujuan Umum :
     a. Memahami sejauh mana perkembangan suatu bangsa melalui sastarnya, baik tulisan maupun lisan .
     b. Memahami makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya.
2. Tujuan Khusus :
     a. Menyunting sebuah teks yang dipandang dekat dengan teks aslinya.
     b. Mengungkapkan sejarah terjadinya teks dan sejarah perkembangannya.
     c. Mengungkapkan persepsi pembaca pada setiap kurun atau zaman penerimaannya.
             Pendekatan Sejarah dalam Instusi Keislaman, Islam berkembang sebagai agama yang memiliki kandungan nilai-nilai ilmiah, rasional dam mistik. Hal tersebut karena perkembangan ini membawa dampak pada aspek lain. di antarnya pada pembentukan intitusi-intitusi Islam.
DAFTAR PUSTAKA 
             Abdullah Amin, Studi Agama: Normativ atau Historis, Yogyakarta: Pustaka
 Pelajar, 1996
             Baharuddin, Metode Studi Islam, Bandung: Cita Pustaka Media, 2005
             Daradjat Zakiah, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1996
             Husaini Adian, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal, Jakarta: Gema Insani Press, 2005
                 Lubis Nabilah, Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Fifologi Jakarta : Puslitbang
Lektur Keagmaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2007
             Sahrodi, Jamali, Metodelogi Studi Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008                    
    

MAKALAH KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI TINJAU DARI SUDUT GURU DAN SISWA

Thursday, July 21, 2016 Diposkan oleh Ridwan Tanjung 0 komentar
A. Pendahuluan 

          Kepemimpinan bukan ditentukan seseorang atau beberapa atau beberapa orang saja, melainkan hasil bersama antara orang pemimpin dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin tidak akan efektif apabila tidak ada partisipasi bawahan. untuk mengavaluasi efektifitas kepemimpinan sering dikaitkan dengan konsekuensi dan tindakan - tindakan pemimpin tersebut bagi para pengikutnya dan para stakeholder lainnya.
            Sekolah dapat mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, sekolah disebut efektif jika sekolah tersebut dapat mencapai apa yang telah direncanakan. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang telah dicapai oleh sekolah, sebaliknya sekola dikatakan tidak efektif bila hubungan tersebut rendah.
              Pada sekolah efektif seluruh siswa tidak hanya yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar tetapi juga memiliki kemampuan intelektualitas yang dapat mengembangkan dirinya sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah.
             Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari bahwa penyusun makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penyusun nanti dalam upaya ecaluasi diri. Dan kami hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidak sempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bahkan hikmah bagi penulis dan pembaca. 
B. Pembahasan
1. Kepemimpinan dalam pendidikan di Tinjau dari Sudut Guru dan Siswa 
                Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah individu di dalam kelompok yang memberikan tugas pengarahan pengorganisasian yang relavan dengan kegiatan-kegiatan kelompok. Kepemimpinan pendidikan dapat diartikan sebagai usahan Kepala  Sekolah dalam memimpin, mempengaruhi dan memberikan bimbingan kepada para personil pendidikan sebagai bawahan agar tujuan pendidikan pengajaran dapat tercapai melalui serangkaian kegiatan yang telah direncanakan. 
                Dari defenisi tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah sumbangan dari seseorang di dalam situasi-situasi kerja sama. Kepemimpinan dan kelompok adalah merupakan dua hal yang dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tak ada kelompok tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya kepemimpinan hanya ada dalam situasi intern kelompok. Seseorang tidak dapat dikatakan pemimpin, jika ia berada diluar kelompoknya harus berada di dalam suatu kelompok di mana ia memainkan peranan-peranan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya. 
               Jadi, kepemimpinan pendidikan adalah suatu kualitas kegiatan-kegiatan dan integrasi di dalam situasi pendidikan. Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien. 
                 Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. 
1. Tugas-tugas Kepemimpinan Pendidikan 
            Menurut pandangan demokrasi, kegiatan kepemimpinan pendidikan diwujudkan sedemikian rupa sehingga tugas-tugas pokok dibawah ini terealisir : 
a. Membantu orang-orang di dalam masyarakat sekolah merumuskan tujuan-tujuan pendidikan. 
b. Memperlancar proses belajar mengajar dengan mengembangkan pengajaran yang lebih efektif. 
c. Membentuk/membangun suatu unit organisasi yang produktif
d. Menciptakan ilklim di mana kepemimpinan pendidikan dapat bertumbuh dan berkembang. 
e. Memberikan sumber-sumber yang memadai untuk pengajaran yan efektif 
              Tugas-tugas diatas merupakan tolak ukur untuk menguji efektifitas kepemimpinan seseorang, dan dapat dirumuskan dengan hubungan "Jika maka" Jika kepemimpinan disekolah efektif, maka : 
a. Orang-orang memperoleh sumbangan yang berharga dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan. 
b. Berlangsung pengajaran yang efektif 
c. Orang-orang yang mengenal diri mereka sebagai penyumbang yang bertanggung jawab terhadap suatu organisasi yang produktif. 
d. Terciptanya suasana yang kondusif (berguna) untuk pertumbuhan orang -orang yang bekerja di dalamnya, 
e. Bertambahnya sumber-sumber yang kaya dimanfaatkab kedalam situasi belajar mengajar. 
              Untuk mencapai sekolah yang  efektif, guru yang mengajar disekolah tersebut harus memiliki kompetensi serta komitmen yang tinggi, bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Guru memiliki peran penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Untuk mengetahui semua harapan itu, maka sekolah harus melakukan kegiatan evaluasi secara berkala, jujur dan objektif. Jika hal demikian dapat dilaksanakan dalam sekolah maka sekolah tersebut akan mendapatkan dari orang tua dan masyarakat. Dengan kepercayaan itulah sekolah akun dapat dibangun menjadi intitusi yang kuat dan martabat. 
                 Pada sekolah efektif seluruh siswa tidak hanya yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar tetapi juag memiliki kemampuan intelektualitas yang dapat mengembangkan dirinya sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah. Harapan ini sedikit berbeda dengan kenyataan yang memfokuskan efektifitas sekolah pada penguasaan kemampuan intelektual yang tercermin dari hasil Nilai Ujian Akhir yang hanya menilai aspek intelektualitas tanpa dapat mengukur hasil belajar siswa dalam kepribadian secara utuh. Sekolah yang efektif pastinya akan menjadi sekolahan yang diserbu oleh banyak calon siswa setiap awal tahun pelajaran dimulai. Peserta didik yang efektif sengat ditentukan oleh rumah dan sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif. 
             Guru profesional menurut suhertian, memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut : 
a. Memiliki kemampuan sebagai ahli dalam bidang mendidik dan mengajar 
b. Memiliki rasa tanggung jawab, yaitu mempunyai komitmen dan kepedulian terhadap tugasnya, dan 
c. Memiliki rasa kesejawatan dan menghayati tugasnya sebagai suatu karier serta menjunjung tinggi kode etik jabatan guru. 
            Menurut G.R Terry yang dikutif Maman Ukas, Bahwa tipe-tipe kepemimpinan ada 6 Yaitu : 
a. Tiipe kepemimpinan pribadi (personal Leadership). Dalam sistem kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan
b. Tipe kepemimpinan non pribadi (Non Personal Leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawas
c. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi harus ditaati. 
d. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertannggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan.  
e. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadeship). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya. 
f. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogeninius leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya sistem kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikut berkecimpung. 
2. Kepemimpinan Dalam Pelajaran Di Tinjau Dari Sudut Guru Dan Siswa.
            Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain tentang pencapaian prestasi ke arah tujuan organisasi. Secara luas defenisi kepemimpinan dikemukakan oleh Yukl menyatakan bahwa kepemimpian meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budanya. 
             Pembelajaran adalah proses interaksi Siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Di dalam proses pembelajaran terdapat usaha guru membantu siswa memperoleh ilmu dan pengetahuan, menguasi kemahiran dan tabiat, serta membentuk sikap dan karakter siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik. Dilihat dari deskripsi pembelajaran di atas, tampak bahwa peran guru sangatlah penting. 
            Secara spesifik, undang-undangan no.14 tentang guru dan dosen menjelaskan bahwa tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidilkan dasar dan pendidikan menengah. Berdasarkan peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwa untuk menjalankan Tugasnya, Kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. 
           Dalam menjalankan tugasnya tersebut, dengan segenap kompetensi yang dimilikinya, guru merupakan profesi yang menuntut penerapan konsep kepemimpinan yang unik. Keunikan tersebut dibentuk karena bawahan (menurut istilah Hersey dan Blanchard) adalah siswa, sekelompok manusia yang memiliki karakteristik tertentu. Selain itu, unsur situasi yang melingkupinya juga unik. Yaitu sekolah. Sekolah merupakan satuan organisasi unik. Organisasi ini tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan satuan organisasi yang lebih luas (Depdiknas), dan hidup dalam komteks lingkungan sosial budaya dimana sekolah itu berada. Jika sekolah tersebut dibangun oleh organisasi masyarakat, tentu ada visi dan misi tertentu yang juga mempengaruhi organisasinya. 
        Manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Pada tahap ini di samping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetauan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik belajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik belajar, misalnya : prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa. 
         Setelah melaksanakan proses pembelajaran, tahap terakhir pembelajaran adalah melaksanakan evaluasi. Yang dikerjakan guru dalam tahapan ini adalah memilih dan membuat soal sesuai dengan SKL dengan memperhatikan tingkat kesukaran dan tingkat pembeda, selanjutnya memeriksa jawaban , mengklarifikasi hasil-hasil penilaian, menafsirkan dan menyusun program tindak lanjut hasil penilaian. Dalam menjalankan semua tahapan pembelajaran tersebut, ada proses pengambilan keputusan yang harus dilakukan guu. Ketika mengambil pengambilan keputusan yang harus dilakukan guru. Ketika mengambil keputusan inilah guru berperan sebagai seorang pemimpin yang dituntut mampu membawa para siswanya mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan yang telah direncakan. 
            Dalam melaksanakan proses pembelajaran, tahapan yang dilakukan guru adalah : 
a. Membuka pelajaran 
b. Menyajikan Materi
c. Menggunakan media dan metode
d. Memotivasi siswa
e. Berinteraksi dengan siswa secara komunikatif 
f.  Menyimpulkan pelajaran 
g. Melaksanakan penilaian, dan tindakan lanjut 
             Faktor-faktor yang mempengatuhi kepemimpinan menjadi dua faktor besar yaitu faktot internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah fakor-faktor yang muncul dari diri pemimpin, sedangkan faktor ekskternal adalah faktor-faktor yang terkait dengan karakteristik bawahan dan situasi. termasuk didalamnya situasi organisasi dan sosial. 
          Faktor internal, sebagai seorang pribadi, pemimpin tentu memiliki karakter unik yang membedakannya dengan orang lain. Keunikan ini tentu akan berpengaruh pada pandangan dan cara ia memimpin sebagai individu, ada kompetensi yang terbentuk melalui proses pematangan dan pendidikan. Faktor Eksternal. 
           Faktor eksternal jika dikaitkan dengan formula Hersey dan Blachar, adalah faktor yang disebabkan oleh karakter bawahan, di dalamnya terkait dengan status sosial, Pendidikan, pekerjaan, harapan, ideologi, agama dll. Faktor-faktor itu tentu akan menentukan bagaimana pemimpin mengatur dan mempengaruhinya. Jika bawahan itu adalah siswa, maka pemimpin akan menjalankan pola kepemimpinan sesuai dengan karakter siswa. Karakter siswa pun akan berbeda-beda, ada belum dewasa sehingga pemimpin mendekatinya dengan pendekatan pedagogi, ada pula siswa sudah dewasa sehingga memerlukan pendekatan andragogi. Kepemimpinan kepala sekolah harus dapat menggerakkan dan memotivasi kepada : 
a. Guru, untuk menyusun program, menyajikan program dengan baik, melaksanakan evaluasi, melakukan analisis hasil belajar dan melaksanakan perbaikan dan pengayaan secara tertib dan bertanggung jawab. 
b. Karyawan, untuk mengerjakan tugas administrasi dengan baik, melaksanakan kebersihan lingkungan secara rutin, melaksanakan tugas pemeliharaan gedung dan perawatan barang-barang inventaris dengan baik dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. 
c. Siswa, untuk rajin belajar secara tertib, terarah dan teratur dengan penuh kesadaran yang berorientsi masa depan dan 
d. Orang tua dan masyarakat, agar mampu untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemitraan yang lebih baik agar partsipasi mereka terhadap usaha pengembangan sekolah makin meningkat dan dirasakan sebagai suatu kewajiban, bukan sesuatu yang membebani. 
C. Penutup 
         Dunia pendidikan adalah dunia guru, rumah rehabilitasi anak didik. Dengan sengaja guru berupaya mengerahkan tenaga dan pikiran kita untuk mengeluarkan anak didik dari terali kebodohan. Sekolah sebagai tempat pengabdian adalah bingkai perjuangan guru dalam keluruhan akal budi untuk mewariskan nilai-nilai ilahiyah dan mentraformasikan multinorma keselamatan duniawi dan ukhrowi kepada anak didik agar menjadi manusia yang berahlak mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri, berguna bagi pembangunan bangsa dan Negara di masa mendatang. 
           bila diibaratkan seorang pemimpin didalam pendidikan dan pengajaran maka guru dan siswa/anak didik menjadi dua figur manusia yang selalu hangat dibicarakan dan tidak pernah ada absen dari agenda pembicaraan masyarakat. Guru tidak hanya disanjung dengan keteladanannya, tetapi ia juga dicaci maki dengan sains hanya karena kealpaannya berbuat kebaikan, maka kejahiliyaan itu bagai tetes air daun talas. Keburukan guru membimbing dan membina anak didik. Padahal warna perilaku anak didik yang buruk terkomsumsi dari multisumber. 
            Guru adalah figure manusia sumber yang menempati posisi, memimpin dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Kepemimpinan guru dalam pendidikan harus tegas dan baik. Guru adalah pemimpin bagi anak didiknya, dilembaga formal adalah dunia kehidupan guru banyak menghabiskan waktunya disekolah dan mengabdikan diri kepada anak didik, sisanya ada dirumah dan dimasyarakat. Oleh karena itu harus terbangun kepemimpinan yang tegas dan baik dari guru untuk anak didiknya dan anak didik terhadap dirinya untuk memimpin dirinya sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan kemuliannya guru meluruskan pribadi anak didik yang dinamis agar tidak membelok dari kebaikan. 

DAFTAR PUSTAKA 

Abdul, Wahab Aziz. 2008. Anatomi Organisasi dan Kepemimpinan
          Pendidikan. Alfabeta:Bandung. 
Maman, Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Ossa Promo: 
          Bandung. 
Miftah, Toha. 1990. Kepemimpinan Dalam Manjemen Suatu Pendekatan
          Perilaku. Rajawali Pers Jakarta. 
Mulyono. 2009. Education Leadership. UIN Press: Malang. 
Soemanto, Wasty dkk. 1960. Kepemimpinan Dalam Pendidikan. PT Usaha 
          Nasional : Surabaya. 
Suparlan. 2008. Membangun Sekolah Efektif. Hikayat Publishing: Yogyakarta