MAKALAH FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Wednesday, March 29, 2017 Diposkan oleh nggy it 1 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

      Konsep pembelajaran fungsi-fungsi administrasi telah dikenal sejak lama dengan berbagai asumsi. Administrasi bisa dikenal sebagai materi, menyuruh orang agar bekerja, mencapai suatu tujuan melaluiupaya orang lain, memanfaatkan manusia, uang, dan sebagainya. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas dan komprehensif, tentang administrasi, makalah ini akan mengemukakan fungsi yang ada pada administrasi.
        Administrasi sebagai suatu kegiatan bersama terdapat dimana-mana selama ada manusia yang hidup dan bekerjasama dalam kelompok. Jika kita melihat sebuah pabrik bekerja menghasilkan semacam benda sebagai produknya, maka disitu kita melihat ada administrasi. Jika kita melihat sebuah lembaga yang melatih dan memberikan suatu pelajaran yang akhirnya mereka mendapat sertifikasi dari proses pendidikan itu, maka disitu ada administrasi pendidkan. Jika kita melihat suatu lembaga yang mempunyai suatu organisasi yang tersusun baik ataupun terencana, maka disitu kita melihat ada sebuah manajemen, dan disetiap lingkungan mempunyai proses pengolahan pembelajaran.
B.    Tujuan
      Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut : Agar mengetahui fungsi-fungsi dari administrasi pendidikan dan memahami bagaimana cara menerapkan dalam sekolah.
C.    Manfaat
Manfaat pembuatan makalah sebagai berikut :
1.    Dapat mengetahui arti dari administrasi pendidikan
2.    Dapat mengetahui fungsi-fungsi administrasi pendidikan   

                                                                             BAB II
                                                                    PEMBAHASAN

Fungsi-Fungsi Administrasi Pendidikan

       Setiap illmu pengetahuan yang dikembangkan manusia dalam sejarah peradabannya memiliki fungsi dalam kerangka memudahkan kehidupan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Administrasi pendidikan sebagai bagian dari pengetahuan sosial menempatkan kajiannya pada bidang penataan semua sumber daya dalam proses pendidikan secara menyeluruh dalam kerangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Menurut Makmur, ada beberapa fungsi administrasi yaitu:
1.Fungsi administrasi dibidang pengaturan, yaitu seluruh tugas-tugas atau aktifitas yang diterapkan administrasi tergolong dalam kegiatan untuk menciptakan perangkat aturan yang dapat digunakan untuk mengatur manusia dan nonmanusia dalam organisasi. Tindakan melalui proses administrasi ini biasanya tidak terlalu banyak meengalami hambatan karena telah diperhitungkan secara matang sebelum melaksanakan aktivitas yang bersangkutan.
2. Fungsi administrasi dibidang penataan, yaitu seluruh tugas atau aktivitas dalam organisasi yang tergolong dalam kegiatan penataan ini merupakan suatu tindakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara berdaya guna dan berhasil guna.
3. Fungsi administrasi di bidang pembinaan, yaitu seluruh tugas atau aktivitas dalam organisasi yang tergolong dalam kegiatan pembinaan disebut juga fungsi pembinaan. Tujuan pembinaan ini adalah mengefektifkan pemanfaatan seluruh sumber daya, baik manusia maupun sumber material lainnya.
       Tindakan administrative mempunyai potensi untuk menunjang, memajukan dan mengembangkan atau untuk menghilangkan segala sesuatu yang menganggu pelksanaan tugas pokok dan fungsi sekolah.  Senyatanya, fungsi administrasi tersebut dijalankan oleh sumber daya manusia atau personil yang ada dalam setiap organisasi. Itu artinya, peran SDM sangat menentukan pelaksanaan administrasi pada setiap organisasi. Dalam buku sondang P.siagian, dijelaskannya bahwa fungsi administrasi,yaitu: (1) Planning (perencanaan), (2) Organizing (pengorganisasian), (3) Staffing (kepegawaian), (4) Directing (pengerahan), (5) Coordinatinng (pengkoordinasian), (6) Budgeting (Penganggaran), (7) Motivating (pergerakan), (8) Controling (pengawasan), (9) Evaluating (penilaian).
        Orang yang menjalankan proses administrasi dalam organisasi adalah administrator. Tegasnya istilah administrator menunjukkan kepada setiap orang dengan kekuasaan dan status administrative anggota-anggota kelompok eksekutifyang bertanggung jawab tentang bagian tertentu administrasi pendidikan.
Mencermati pendapat diatas, maka dalam konteks ini, fungsi administrasi dalam organisasi sangat menentukan berkonstribusi bagi operasional, pengembangan, kualitas dan kemajuan setiap organisasi. Administrasi pendidikan yang dijumpai pada setiap lembaga pendidikan, juga bekerja untuk memajukan dunia pendidikan bagi pendewasaan anak didik. Para administrator yang akan menentukan berjalannya fungsi administrasi pendidikan, sejak dari proses pencernaan pendidikan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.

A.    PERENCANAAN PENDIDIKAN
1.Pengertian perencanaan
        Secara umum, dilihat dari fungsi-fungsi administrasi dalam institusi pendidikan dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan, penevaluasian dan pengambilan keputusan. Semua proses kegiatan tersebut dilaksanakan oleh administrator bersama staf untuk mencapai tujuan pendidikan. Itu artinya perencanaan pendidikan merupakan tindakan awal yang dilakukan para administrator didalam menjalankan tugas pokok dan fungsi sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan diskolah. Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa akan dating dalam rangka pencapaian tujuan yang akan ditentukan.  Dalam kaitan ini dapat bahwa perencanaan adalah persiapan yang cerdas bagi pelaksanaan perbuatan.ia juga memberi arti kepada perbuatan, karena jika maksud-maksud dan tujuan-tujuan dipahami dengan jelas maka alas an-alasan bagi program-program dan kegiatan-kegiatan menjadi terang. Dua pertanyaan yang sangat pokok yang harus dijawab oleh perencanan ialah apa yang akan dicapai dan bagaimana mencapainya.
        Sedangkan rencana adalah suatu keputusan. Karena suatu rencana merupakan satu keputusan maka kegunaannya baru akan terlihat setelah dilaksanakan oleh administrator atau pimpinan. Rencana saja belum berrti banyak meskipun belum berhasil dibuatnya suatu rencana yang baik sudah merupakan bagian penting dari proses admnistrasi dan menejemen secara keseluruhan.
         Suatu defenisi tentang perencanaan yanag diberikan oleh aderson dan bowman berbunyi: “perencanaan adalah proses mempersiapkan seperangkat putusan bagi perbuatan dimasa dating”.
        Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan administrasi. Tanpa perencanaan, pelaksaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada permulaan dan selama kegiatan administrasi itu berlangsung.
       Di dalam setiap perencanaan ada dua factor yang harus di perhatikan, yaitu factor tujuan dan factor sarana, baik sarana personil maupun material. Langkah-langkah dalam perencanaan melipiputi hal-hal sebagai berikut:
a.    Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak di capai.
b.    Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan di lakukan.
c.    Mengumpulkan data dan informasi-imformasi yang di perlukan.
d.    Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
e.  Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan di pecahkan dan bagaimana pekerjaan akan diselesaikan.
      Defenisi ini menyarankan bahwa perencanaan itu membawa kepada dan meliputi pembuatan keputusadin. Pembuatan putusan sering merupakan bagian penting dari perencanaan. Iya adalah proses dalam mana suatu program tindakan yang lengkap dipersiapkan di muka sebelum setiap bagiannya di laksanakan melalui putusan-putusan khusus. Tapi perencanaan bisa juga mengikuti suatu keputusan dan kepentingan dengan pelaksaannya. Ini misalnya, terjadi pada perencanaan pendidikan.
        Dari sudut pandang organisasi perencanaan berurusan dengan (1) penetapan tujuan-tujuan dan maksud-maksud organisasi. (2) perkiraan lingkungan (sumber-sumber dan hambatan-hambatan) dalam mana tujuan dan maksud-maksud itu harus di capai dan (3) penentuan pendekatan yang akan mencapai tujuan dan maksud-maksud itu. Aspek-aspek perencanaan yang paling poko di atas itu menjelaskan bahwa perencanaan adalah mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan organisasi kea rah tujuan dan maksud yang di batasi serta mengurangi perbuatan untung-untungan, disfungsional dan tidak di arahkan kepada tujuan oraganisasi. Perencanaan juga membawa taraf rasionalitas dan keadaan teratur yang lebih tinggi kedalam organisasi daripada apabila organisasi berjalan tanpa perencanaan. Pertumbuhan dan perkembangan yang tak terkendalikan, karenanya perlu dihindarkan.
          Perencanaan mengijinkan administrator untuk bertindak dengan inisiatif dan untuk menciptakan situasi yang menguntungkan bagi organisasi. Tanpa perencanaan ia akan terpaksa untuk sekedar mereaksi kepada situasi-situasi atau masalah-masalah yang bermunculan terus dalam usahanya untuk mengendalikan situasi atau masalah itu.
2.Fleksibilitas dalam perencanaan
         Perencanaan berurusan dengan masa depan. Karena tidak bisa diketahui secara pasti atau dengan tepat apa isi masa depan itu, pada umumnya suatu rencana tidak berjalan persis seperti diharapkan. Dalam perencanaan perhatian diarahkan kepada suatu sasaran yang bergerak dalam kondisi lingkungan yang berubah. Karenanya sering terjadi, bahwa sebelum sasaran yang ditetapkan itu tercapai suatu penyesuaian harus dibuat terhadap rencana semula atau rencana lama itu ditinggalkan seluruhnya. Bagaimanapun, suatu sasaran baru harus dibuat. Mengingat sifat proses perencanaan yang dinamis itu, administrasi yang efektif meminta bahwa rencana-rencana diperbaiki dan kegiatan organisasi diarahkan kembali kalau suatu rencana baru akan melayani dengan baik kepentingan organisasi serta para anggotanya.
3.Perencanaan dalam tingkat administrasi
        Semua tingkat administrasi hendaknya terlibat dalam perencanaan. tapi seperti dengan fungsi -fungsi administrative lainnya, administrator pada tingkat yang lebih tinggi  dalam organisasi mungkin menghabiskan lebih banyak waktu bagi perencanaan daripada administrator pada tingkat yang lebih rendah. Ada hubungan umum lainnya yang lebih penting antara kegiatan perencanaan dengan tingkat organisasi. Karena tingkat yang lebih rendah condong untuk menurunkan rencana dari rencana-rencana tingkat lebih tinggi, rencana-rencana tingkat atas itu harus lebih sudah ditetapkan sebelum tingkat rencana bawah itu disusun. Dengan kata lain lebih tinggi orang berada dala m struktur organisasi, lebih jauh kemasa depan ia harus merencanakan.
        Dalam hal ini, administrator puncak di Departemen melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan untuk tujuan-tujuan system pendidikan yang luas yang diharapkan akan berkembang lima, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun kemudian. Seorang kepala sekolah, sebaliknya lebih berkepentingan dengan tujuan-tujuan yang lebih segera, seperti misalnya merencanakan bagaimana menambah daya tamping sekolahnya di tahun pelajaran dating perencanaan ditingkat menengah adalah antara perencanaan kepala sekolah dan perencanaan administrator puncak.
4.Perlunya partisipasi staf dalam perencanaan
        Dalam organisasi yang dibangun dan dibin atas dasar yang otoriter, kebanyakan perencanaan dilakukan oleh para administrator. Puncak, akan tetapi di industry menunjukkan bahwa ada banyak kelemahan dalam organisasi yang otoriter serupa itu. Para anggota stafnya telah terbiasa untuk bergantung pada pemimpin untuk formulasi tujuan-tujuan dan pembuatan rencana-rencana. Kesanggupan kreatif dari kelompok tidak dimanfaatkan, dalam kondisi serupa itu ketergantungan psikologis, kepatuhan, dan sifat berpusat pada pemimpin berkemban dengan cepat.
      Para administrator sekolah sebaiknya menahan diri dari kebiasaan mereka untuk selalu mengatakan kepada para anggota staf sekolahnya apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana melakukannya, dan sebaliknya mengutamakan fungsi kepemimpinan kearah pengembangan kesempatan yang akan memungkinkan mereka untuk memberikan sumbangan yang nyata dalam dalam formulasi-formulasi tujuan-tujuan dan pengembangan rencana-rencana. Administrator hendaknya bukan sekedar orang yang mengetahui tentang bagaimana melaksanakan semua pekerjaan dalam sekolah dengan baik, tapi lebih-lebih lagi orang yang mengetahui bagaimana merangsang dan melepaskan bakat para anggota dalam identifikasi dan pencapaian tujuan-tujuan yang telah diterima oleh semua anggota. Dalam semua aspek perencanaan administrator mempunyai tanggung jawab untuk mendorong, membantu dan menyumbang kepada kegiatan perencanaan, bukan untuk mendominasikannya. Berbuat demikian akan membahayakan kemungkinan untuk memperoleh sumbangan penting yang dibuat oleh para anggota stafnya.
5.Karakteristik Perencanaan di Sekolah-Sekolah
      Supaya perencanaan di sekolah-sekolah benar-benar berarti adalah perlu bahwa ia didesain dan dikembangkan dengan cermat. Adalah penting untuk membuat persiapan yang baik bagi perencanaan seperti bagi setiap kegiatan penting lain. Orang-orang yang akan berpartisipasi dalam perencanaan hendaknya diikutsertakan dalam pengembangan prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang akan menguasainya. Dalam suatu wilayah sekolah berpartisipasi pada nasehat administrative, para penasehat kurikulum, kelompok kerja guru-guru, dan kelompok formal yang lain akan memperlancar perencanaan wilayah sekolah. Pengaturan yang lebih informal bisa juga berarti. Sedapat-dapatnya persiapan bagi perencanaan hendaknya memungkinkan semua orang yang berkepentingan untuk ikut serta secara langsung. Hendaknya tidak ada paksaan terhadap orang-orang untuk berpartisipasi, tapi juga hendaknya tidak mengasingkan orang-orang yang berminat terhadapnya. Di tiap sekolah tekanan pada perencanaan oleh staf sekolah akan menambah kesempatan partisipasi. Caranya perencanaan dilakukan di sekolah-sekolah tertentu akan bergantung pada sejumlah kondisi, di antaranya adalah konsep administrator  sekolah tentang sifat dan nilai perencanaan, minat dan kesiapan staf sekolah untuk berpartisipasi , dan keefektivitas pengalaman perencanaan terdahulu.
6.Perencanaan Pendidikan
      Perencanaan pendidikan, khususnya perencanaan pendidikan yang komprehensif, merupakan suatu bidang baru bagi para pembuat putusan yang di bidang pendidikan. Kegagalan lembaga-lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan telah menimbulkan kesangsian terhadap maksud-maksud yang diharapkan akan dipenuhi oleh pendidikan, tentang sifat proses pendidikan secara keseluruhan dan tentang kemampuan para pendidik. Kesangsian ini telah memaksa para pendidik untuk memeriksa kembali program-program pendidikan yang ada sekarang serta pengaruhnya dalam memecahkan kesadaran baru tentang pentingnya perencanaan pendidikan.
7.Proses Perencanaan
       Maksud dari perencanaan yang komprehensif, yaitu perencanaann untuk yang macam-macam dan meluas kepada tujuan-tujuan jangka panjang yang akan menggunakan sumber-sumber yang tersedia yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan memungkinkan evaluasi yang kontiniu terhadap masalah-masalah proses perencanaan itu sendiri. Tahap-tahap yang terlibat di dalamnya, menurut Banghart dan Trull, ialah sebagai berikut :
1.    Formulasi masalah perencanaan pendidikan
a.    Menguraikan ruang lingkup masalah pendidikan.
b.    Mempelajari “apa yang pernah ada”.
c.    Menentukan “apa yang ada” lawan “apa yang seharusnya ada”.
d.    Sumber-sumber dan kendala.
e.    Menetapkan bagian-bagian dari perencanaan  pendidikan dan prioritas.
2.    Analisa bidang-bidang masalah perencanaan
a.    Mempelajari bidang dan system sub-bidang masalah.
b.    Mengumpulkan data.
c.    Mengumpulkan data
d.    Membuat ramalan.
3.    Formulasi rencana-rencana
a.    Mengidentifikasi kecondongan-kecondongan.
b.    Menetapkan maksud dan tujuan.
c.    Mendesain rencana-rencana.
4.    Evaluasi rencana-rencana dan memilih rencana
a.    Merancang melalui simulasi.
b.    Menilai rencana-rencana.
c.    Memilih suatu rencana.
5.    Elaborasi rencana
a.    Formulasi rencana.
b.    Melaporkan hasil-hasil.
6.    Implementasi rencana
a.    Persiapan program
b.    Persetujuan program, justifikasi keabsahan.
c.    Mengordinasi unit-unit operasional.
7.    Umpan balik rencana
a.    Memonitor implementasi rencana.
b.    Menilai rencana.
c.    Merevisi, mengubah, mendesain kembali rencana.
     Konsep tentang rencana pendidikan ini memang luas. Ia menekankan pada hubungan perencanaan pendidikan dengan perencanaan umum masyarakat dan juga pada kebutuhan  akan penilaian yang terus-menerus serta perencaan kembali. Pendidikan formal di sekolah hanyalah bagian dari kehidupan masyarakat itu. Karenanya, perencanaan pendidikan tidak bisa dilakukan dengan efek dalam keadaan terasing dari yang lain. Ia hendaknya berkaitan dan diitegrasikan dengan tingkat-tingkat penting dari perencanaan dalam masyarakat itu.
8.Dimensi Perencanaan Pendidikan
     Perencanaan pendidikan bisa memiliki beberapa dimensi: makro, meso, dan mikro. Perecanaan pendidikan yang komprehensif terutama diperlukan bagi perencanaan di tingkat makro yang merupakan perencanaan jangka panjang. Kebanyakan system perencanaan yang dipakai di tingkat meso dan mikro terbatas pada perencanaan kurikulum, pengembangan spesifikasi pendidikan, penyusunan anggaran tahun dan seterusnya.
      Perencanaan makro adalah perencanaan dengan ruang lingkup nasional. Perencanaan ini menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan diikuti, tujuan-tujuan yang hendak dicapai, cara-cara bertindak yang perlu untuk mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai,cara-cara bertindak yang perlu untuk mencapai tujuan-tujuan itu, serta bagian-bagian dan prioritas-prioritas perencanaan semuanya secara nasional. Perencanaan makro menekankan hubungan perencanaan pendidikan dengan perencanaan umum pembangunan nasional. Karena itu, kebijakan perencanaan pemerintah dibidang pendidikan dikaitkan erat dengan kebijaksanaan perencanaan di bidang sosial-kultural-ekonomi-politik.
Masalah-masalah pendidikan yang hendak dipecahkannya ialah mengenai hal-hal berikut :
1.    Pengembangan pendidikan, yang formal dan yang nonformal, yang cocok dengan kebutuhan dari berbagai tahap pertumbuhan manusia.
2.    Pengembangan system pendidikan formal yang seimbang pada semua tingkat, dengan perluasan ditingkat-tingkat menengah dan tinggi ditentukan oleh kemampuan murid, tersedianya sumber-sumber finansial, dan persyaratan tenaga kerja.
3.    Pentingnya pertimbangan kualitatif bagi perkembangan pendidikan. Kebutuhan untuk mencapai standar yang lebih tinggi di tingkat-tingkat menengah dan tinggi adalah suatu keharusan. Bahkan ditingkat rendah pemeliharaan standar yang layak adalah esensial agar mencegah pemborosan dana menyediakan landasan bagi tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
4.    Diversifikasi pendidikan dengan memperluas dan memeperkuat pendidikan kejuruan dan teknik pada tingkat-tingkat menengah dan tinggi sejalan dengan kemampuan ekonomi yang berkembang untuk menggunakan keterampilan yang terlatih.
5.    Peningkatan program-program pendidikan orang dewasa, generasi muda, dan keluarga sebagai bagian integral dari pengembangan pendidikan yang menyeluruh
6.    Pengembangan pendiidkan yang mencerminkan atas kesamaan dalam kesempatan pendidikan.
Adapun isi dari apa direncanakan sehubungan dengan masalah-masalah tersebut di atas meliputi:
a.    Maksud dan tujuan, atau apa yang diinginkan sebagai hasil dari proses pendidikan.
b.    Program dan pelayanan, atau bagaimana pola-pola kegiatan belajar dan pelayanan-pelayanan pendukung akan diorganisasikan.
c.    Sumber manusia, atau bagaimana penampilannya, interaksinya, spasialisasinya, prilakunya, kemampuannya, pertumbuhannya dan kepuasannya akan dibantu dan ditingkatkan.
d.    Sumber fisik, atau bagaimana fasilitas-fasilitas akan digunakan atau pola distribusinya akan dirancang untuk menjamin pemakaiannya yang efesien dan efektif.
e.    Biaya, atau bagaimana pengeluaran akan dibiayai dan pendapatan direncanakan, yang untuk sebagaian besar akan memberi bentuk kepada sifat cara penggunaan sumber-sumber manusia dan fisik dari system pendidikan.
f.    Struktur organisasi pendidikan, ata bagaimana pelaksanaan dan pengawasan program-program dan kegiatan-kegiatan pendidikan akan diorganisasikan dan dikelola.
g.    Konteks sosial, atau unsur-unsur sumber apa harus dipertimbangkan dalam system pendidikan yang dalam kenyataannya hanyalah suatu system sosial kecil saja yang meliputi berbagai unsur dari keseluruhan system sosial dari masyarakat.
Perencanaan meso, ialah perencanaan di tingkat daerah. Perencanaan ini merupakan penjabaran dari perencanaan di tingkat nasional yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah. Walaupun begitu, perencanaan tingkat meso harus tetap merupakan bagian dari dan menunjang kepada tujuan perencanaan di tingkat makro.
Sifat perencanaan di tingkat meso, sudah tentu harus lebih operasional daripada perencanaan di tingkat makro. Ia harus sangat memperhatikan pembangunan program-program pendidikan yang mendukung kegiatan pembaharuan di daerah dan karenanya harus sinkron dengan program dan proyek pembangunan di daerah.
Perencanaan mikro, ialah perencanaan yang merupakan penjabaran lebih terperinci lagi dari perancanaaan meso, perhatian tertuju pada pengembangan pendidikan di tingkat lembaga pendidikan setempat itu sendiri. Seperti telah dikatakan dimuka kebanyakan perencanaan mikro terbatas pada perencanaan jangka pendek saja.

B.PENGORGANISASIAN PENDIDIKAN
1.Pengertian Organisasi
      Organisasi menjadi bagian dari masyarakat. Karena kebudayaan manusia mengalami kemajuan dikarenakan oleh banyaknya organisasi yang menata aspek-aspek kehidupan manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini. Karena manusia memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak maka manusia menjadi kreatif dalam menciptakan dan mendirikan berbagai jenis organisasi, sebagaimana terlihat dalam realitas, yaitu ada negara atau pemerintahan, ada rumah sakit, sekolah,perguruan tinggi, organisasi keagamaan ( Muhammadiyah, Al Wasliyah, Matlaul Anwar, Al Irsyad, Al Ittihadiyah, Persatuan Tariyah Islamiyah, dll). Semua organisasi tersebut dibentuk utuk menjawab dan memecahkan masalah manusia secara koprehensif dan bersama-sama untuk memiliki kehidupan yang berkemajuan dan mencerdaskan.
        Sistem pendidikan seperti adan, jaawatan, dinas dan lembaga-lembaga pemeintah lainnya didiikan oleh undang-undang. Akan tetapi, supaya sistem pendidikan itu mnjadi kenyataan i harus diciptakan dulu oleh administrasi. Kegiatannya pada permulaan sekali melipputi: membangun hirarki jabatan-jabatan dengan orang-orang dan menyebarkan pekerjaan, maksud dan tujuan serta fsilitas keseluruhan ognisasi. Hubungan antara orang-orang ditetapkan agar alam usaha mencpai tujuan-tujuan itu diperoleh penyesuaian tindakan dan langkah. Apabila kegiatan menyusun dan mengatur itu selesai, maka hasilnya disebut organisasi, yakni mekanisme yang mempersatukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan. Proses mengatur sejumlah oarang adalah sebagai fungsi administrasi yang dapat disimpulkan dengan pemahaman bahwa sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama yang disepakati sebelumnya.
     Dalam perkembangannya, organisasi paling tidak dikelompokkan menjadi dua dilihat dari sifat kegiatannya, yaitu:
1.    Organisasi formal
      Mengorganisasikan merupakan salah satu fungsi pokok dalam proses administrasi. Tanpa pengaruh menggabungkan dan mempersatukan ini fungsi-fungsi perencanaan, direksi, komunikasi dan sebagainya tidak akan dapat membawa management kepada tingkat yang sempurna. Prinsip menggabungakan dan memperatukan ini dipergunakan bila mana saja kita berbuat dengan sengaja dan bertujuan. Berfikir, pada asasnya adalah mengkoordinasi fakta dan fikiran dengan maksud untuk berbuat sesuatu. Bila seseorang sedang mengatur tugas personil, menyusun daftar pelajaran, atau sedang mengatur atau proses administrasi kelas, ia sebenarnya sedang mengerjakan proses organisasi.
2.    Unsur kesatuan sebagai dasar organisasi
       Unsur pertama dan yang nyata menyebabkan kesatuan terdapat dalampikiran para anggota organisasi sebagai tujuan-tujuan yang hendak dicapai tujuan tidak akan segera siap sedia untuk digunakan dalam organisasi sekolah, kecuali jika dicantumkan dalam keijaksanaan dan peraturan sekolah ia harus dirumuskan dahulu. Tujuan tidak akan menjadi efektif dalam organisasi dengan sekedar dituis diatas kertas. Agar ia mendorong, menuntun dan mempersatukan tindak dan langkah, ia harus diterima menjadi tujuan dari orang-orang yang membentuk organisasi.
        Unsur kedua, yang jelas menjadi salah satu kekuatan yang mempersatukan, ialah kewenangan yaitu hak dan kekuasaan untuk melakukan sesuatu atas dasar kedudukan yang ditempati seseorang. Bagian-bagian organisasi itu mungkin dikuasai oleh kekuasaan yang sangat memusat, yang dalam bentuk ekstrim terdapat pada kekuasaan yang otoriter. Atau mungki oleh kekuasaan yang disalurkan dan dibagi-bagika keseluruh organisasi seperti terdapat pada kekuasaan yang demokratis. Kekuasaan yang dibagi-bagikan itu tidak harus menambah kewibawaan. Bagaimanapun, kekuasaan tidak akan efektif bagi kesatuan organisasi kecuali jika rasa tanggung jawab terhadap kesatuan itu dipunyai oleh semua orang di dalam organisasi. Unsur ketiga ialah pengetahuan. Jika dianggap kekuatan yang mempersatukan. Karena ia adalah dasar bagi pengertian dan persesuaian faham diantara para anggota organisasi dan menjadi pedoman bagi sikap dan perbutan mereka orgnisasi dan menjadi pedoman bagi sikap dan perbuatan mereka. Pengetahuan tentang peranan-peranan dan hubungan-hubungan di dalam organisasi adalah penting bagi tercapainya kerjasama yang efektif.
      Pengorganisasian sebagai fungsi adminiistrasi pendidikan menjadi tugas utama bagi para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah. Yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain ialah bahwa pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab, hendaknya disesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan, dan kepribadian masing-masing orang yang diperlukan dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.  Fungsi organisasi dapat diartikan bermacam-macam:
a.    Organisasi dapat diartikan sebagai memberi struktur, terutama dalam penyusunan/penempatan personel, pekerjaan-pekerjaan, material, dan pikiran-pikiran di dalam struktur itu.
b.    Organisasi dapat pula ditafsirkan sebagai menetapkan hubungan antara orang-orang, kewajiban, hak, dan tanggung jawab masing-masing anggota disusun menjadi pola-pola kegiatan yang tertuju pada pencapaian tujuan atau maksud kegiatan pendidikan dan pengajaran.
c.    Organisasi dapat pula diartikan semata-mata mengingat maksudnya, yakni sebagai alat untuk mempersatukan usaha-usaha menyelesaikan pekerjaan.
       Dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian pendidikan adalah mengatur proses pendidikan pada sekolah atau lembaga pendidikan agar tugas-tugas pokok dan fungsi dapat terlaksana dengan efektif untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat atau khususnya warga sekolah. Selain itu, sekolah dengan administrasi yang baik dapat menghasilkan layanan dan lulusan yang diharapkan oleh stakeholders pendidikan di sekolah.
        Dengan begitu, tugas-tugas kepala sekolah memiliki kejelasan, dan berbeda dengn tugas wakil kepala sekolah, dan tata usaha berbeda dengan tugas wal kelas, dan tugas guru diatur sedemikian rupa dan berbeda dengan tugas pegawai administrasi sekolah. Di sini jelas terjadi proses komunikasi dan kepemimpinnan untuk memastikan informasi tugas berlangsung dana ada visi dan pengarahan yang jelas antara kepala sekolah dengan staf dan guru pada setiap sekolah.

C. KOMUNIKASI ORGANISASI PENDIDIKAN
1. pengertian komunikasi
       Komunikasi merupakan proses yang memungkinkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memahami. Sejatinya proses komunikasi adalah memindahkan atau mengirim informasi dan pengertian dengan menggunakan symbol verbal dan non verbal.
        Pendapat lain menegaskan bahwa komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjelasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang atau dari kelompok.
       Dapat dipahami bahwa komunikasi adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikp dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu organisasi. Unsur-unsur esensial suatu organisasi melingkupi suatu maksud bersama, orang-orang yang bersedia membantu tercapainya maksud itu dan komunikasi. Tanpa komunikasi tiada maksud bersama akan dipahamidan diterima oleh semua anggota organisasi. Juga tak akan ada usaha yang terkoordinasi dari mereka yang membantu tercapainya maksud itu. Jika komunikasi di suatu organisasi berjalan sepenuhnya. Organisasi sangat mungkin akan dipahami oleh semua anggontanya, dan mereka akan cenderung untuk berbuat dengan cara yang kooperatif dan terkoordinasi menuju pencapaian maksud-maksud itu. Jika komunikasi tidak berjalan dan semestinya, maksud-maksud mungkin tidak akan dipahami sama sekali dan orang akan cenderung untuk berbuat dengan cara yang sedikit-banyak sewenang-wenang dan tak terkoordinasi.

1.Proses komunikasi
        Unsur-unsur proses komunikasi. Proses komunikasi memerlukan tersediannya sejumlah unsur. Pertama, harus ada sumber, yaitu seorang komunikastor yang mempunyai sejumlah kebutuhan, ide, atau informasi untuk di beritahukan. Kedua, harus ada suatu maksud yang hendak dicapai, yang umumnya bisa dinyatakan dalam kata-kata perbuatan yang oleh komunikasi diharapkan akan dicapai. Ketiga, suatu berita dalam suatu bentuk diperlukan untuk meyatakan fakta, perasaan atau ide yang dimaksudkan untuk membangkitkan respon dipihak orang-orang kepada siapa berita itu ditujukan. Keempat, harus ada suatu saluran yang menghubungkan sumber berita dengan penerima berita. Kelima, harus ada penerima berita. Akhirnya harus ada umpan balik atau respons di pihak penerima berita. Umpan balik memungkinkan sumber berita untuk mengetahui apakah berita itu telah diterima dan diinterpretasikan dengan betul atau tidak.
      Komunikasi proses tiga arah. Agar komunikasi bekerja efektif, administrator hendaknya mampu mengatur aliran pemberitaan ke tiga arah: ke bawah, ke atas, ke samping atau mendatar. Begi setiap orang atau kelompok hendak dalam organisasi hendaknya mungkin untuk berkomunikasi dengan setiap orang atau kelompok lain, dan untuk menerima suatu respons jika itu diminta oleh komunikasi.
        Proses komunikasi mencakup suatu perpindahan pesan dari langkah penciptaan gagasan atau pendapat yang dipindahkan kepada proses umpan balik di mana penerima pesan memahami yang dikomunikasikan.
Komunikasi dalam setiap bentuknya adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi. Di dalam kegiatan komunikasi diperlukan adanya motivasi, terutama motivasi intrinsik. Oleh karena itu, pemberian motivasi dalam rangka komunikasi hendaknya memperhatikan beberapa unsur seperti berikut:
a.    Adanya keinginan untuk berhasil.
b.    Kejelasan tentang tindakan yang harus diambil/dianjurkan.
c.    Keyakinan bahwa perubahan yang dianjurkan akan membawa hasil positif.
d.    Keyakinan akan adanya kesempatan yang sama bagi semua anggota.
e.    Keyakinan akan adanya kebebsan untuk menentukan, menolak, ataupun menerima apa yang dianjurkan.
f.    Adanya tendensi untuk menilai.
      Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa komunikasi dalam organisasi pendidikan merupakan caraa yang dapat digunakan untuk memudahkan proses kerjasama para personil sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, sasaran, dan program sekolah sehingga efektifitas pribadi, kelompok dan organisasi tercapaidengan baik. Pelayanan berjalan lancar, dan lulusan sekolah dapat  dibanggakan oleh semua unsur stakehlders pendidikan.
     Kepala sekolah sebagai administrator dan pemimpin sekolah yang memegang peranan strategis untuk menata proses komunikasi dalam organisasi pendidikan di sekolah. Untuk itu, proses komunikasi kepala sekolahengan semua komponen sekolah harus bersifat aktif dan terbuka sehingga komponen lainnya bergerak dengan dinamis bekerjasama melaksanakan tugas pokok dan fungsi sekolah, baik bidang pengajaran/kurikulum, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, personalia, dan hubungan dengan masyarakat. Semua bidang operasional administrasi pendidikan ini menjadi lancar jika proses komunikasi organisasi berjalan dengan baik.

D. KOORDINASI PENDIDIKAN
       Koordinasi ialah proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan dn sumber-sumber lain ke arah tercapainya maksud-maksud yang telah ditetapkan.  Sejauh mana seseorang administrator sekolah bisa mendorong semua anggota sekolahnya untuk menyumbangkan perilaku yang bertujuan, tertib, dan efektif merupakan ujian akhir tentang kesanggupannya. Dengan kata lain, mencapai koordinasi adalah salah satu fungsi pokok setiap administrator. Akan tetapi koordinasi hendaknya tidak dipandang sebagai suatu kegiatan yang terpisah dan berdiri sendiri, karena ia hanya sebagian saja dari seluruh aspek administrasi. Perencanaan, organisasi, komunikasi, pengawasan dan penilaian, semuanya sendaknya membantu kepada koordinasi.
       Tanpa koordinasi sulit untuk mengharapkan bahwa pengaturan kegiatan dengan tertib dari dua orang atau lebih dalam mengerjakan suatu tujuan bersama akan dicapai. Melalui proses organisasi berbagai bagian suatu usaha di hubungan dengan setiap bagian lainya. Tapi, yang mempengaruhi bagian-bagian ini supaya berfungsi sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi dan harmonis adalah kegiatan mengkoodinasi. Ia mempersatukan bagian-bagian dan membuat tiap bagian itu melengkapi dan mendukung yang lainnya. Fungsi koordinasi dalam organisasi barangkali bisa dilukiskan paling baik dengan cara suara dari berbagai instrumen dalam suatu orkes simfoni dirangkaikan sehingga menghasilkan suatu pagelaran melodi, harmonis dan ritmis.
      Adanya bermacam-macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang, memerlukan adanya koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan atau kesimpangsiuran dalam tindakan. Dengan adanya koordinasi yag baik, semua bagian dan personel dapat bekerja sama menuju kesatu arah tujuan yang telah ditetapkan. Koordinasi ini perlu untuk mengatasi kemungkinan adanya duplkasi dalam tugas, perebutan hak dan tanggung jawab, ketidakseimbangan dalam beratrintangannya pekerjaan, kesimpangsiuran dalam menjalankan tugas dan kewajiban.
Menurut Sutisna,  proses koordianasibisa dibagi dalam tiga tingkat. Pertama,harus ada rencana perilaku yang telah dibuat bagi semua anggota kelompok. Kedua, seluruh rencana itu, atau sedikitnya bagian-bagiannya yang releven harus dipahami oleh setiap orang yang terlibat. Ketiga, kesediaan setiap orang untuk berbuat sesuai dengan rencana harus dikembangkan.
       Dengan begitu, koordinasi dalam organisasi pendidikan harus ditata oleh administrator utama yaitu kepala sekolah dan tata usaha. Semua komponen tersebut menjadi kunci melakukan kesamaan pandangan dan tindakan untuk mencapai tujuan. Karena itu, koordinasi memerlukan keterampilan komunikasi yang baik dalam organisasi pendidikan sehngga tidak ada yang salah memahami tugas pokok dan fungsiya dan salah dalam melaksanakan pekerjaan, padahal pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawab orang lain. Karena itu setelah pembagian tugas maka unit-uit lainnya melakukan koordinasi dalam hal pekerjaan yang memerlukan dukungan unsur lainnya untuk efektivitas suatu sekolah dalam mencapai tujuannya.
        Dalam praktiknya disetiap sekolah, koordinasi ini dijalankan oleh semua unit yang ada disekolah, baik oleh kepala sekolah para wakil kepala sekolah, tata usaha, wali kelas, unit bimbingan konseling dan perpustakaan. Kegiatan yang dikoordinasikan adalah semua kegiatan yang ditangani oleh masing-masing unit/unsur dan berhubungan dan keberhasilannya satu dengan yang lainnya sehingga melalui komunikasi semua saling memperkuat untuk menunjukkan kinerja pribadi, kinerja unit dan kinerja sekolah.

E. PENGAWASAN PENDIDIKAN
1. Pengetian Pengawasan Pendidikan
       Mengawasi ialah proses dengan mana administrasi melihat apakah yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Jika tidak maka penyesuaian yang perlu dibuatnya.  Jadi pengawasan ialah fungsi administrative dalam mana setiap administrator memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang dikehendaki. Ia meliputi pemeriksaan apakah semua berjalan sesuai dengan rencana yng dibuat, intruksi-intruksi yag dikeluarkan, dan prinsip-prinsip yang ditetapkan. Ia dimaksudkan untuk menunjukkan kelemahan-keemahan dan kesalahan-kesalahan, kemudian membetulkannya dan mencegah perulangannya. Ia mengenai semua orang, benda.
      Dilihat sebagai proses, tindakan pengawasan terdiri atas tiga langkah universal berikut:(1)Mengukur perbuatan; (2) Membandingkan peruatan dengan standar yang ditetapkan dan menetapkan perbedaannya jika ada; dan (3) Memperbaiki penyipanan dengan tindakan pembetulan.Dikatakan dengan cara yang sedikit berbeda, pengawasan terdiri atas; (1) Menyelediki apa yang sedang dilakukan; (2) Membandingkn hasil-hasil dengan harapan-harapan, yag akan memawa kepada; (3) Menyetujui hasil-hasil itu atau tidak menyetuuinya, dalam hal yang terakhir perbaikan yang perlu hendaknya diambil.
Proses pengawasan yang eektif memperlihatkan beberapa karakteristik.
1)    Pengawasan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan organisasi. Lama memperhatikan pola dan tata organisasi, seperti susunan, peraturan-perturan. Tugas-tugas dan kewenangan yang terdapat dalam organisasi.
2)    Pengawasan hendaknya diarahkan kepada menemukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan. Pengawasan tidak dimaksudkan untuk terutama menemukan siapa yang salah jika ada ketidakberesan melainkan untuk menemukan apa yang tidak betul
3)    Pengawasan hendaknya mengacu kepada tindakan perbaikan. Ia hendaknya tidak saja megungkapkan penyimpanan dari pelaksanaan yang dikehendaki, ia juga hendaknnya menyarankan cara yang bisa memperbaiki elaksaan. Pengawasan sering menyarankan beberapa bidang yang mungkin bagi tindakan perbaikan. Mka menjadi tugas administrator untuk meneliti bidang-bidang masalah yang mungkin ini, dan menentukan tindaka perbaikannya atau kombinasi tindakan yang akan memecahkan masalah itu.
4)    Pengawasan harus bersifat flesibel. Fleksibelitas dalam keseluruhan proses pengawasan adalah penting bagi penyesuaian kepada kondisi yang berubah. Rencana atau standar yang mendasari pengukuran pengawasan mungkin memerlukan perbaikan bila keadaan yang mendasarinya berubah.
5)    Pengawasan harus bersifat peventif, ia arus dapat mencegah timbulnya penyimpangan dari rencana semula. Untuk ii pengawasan harus prediktif artinya ia harus mampu mengatasi dan mengidentifikasi suatu masalah sebelum itu terjadi.
6)    Sistem pengawasan harus dapat dipahami. Jika pengawasan hendak berarti, orang-orang yang terlibat harus memahami apa yang hendak dicapai oleh pengawasan itu dan bagaimana mereka selaku individu dapat menarik manfaat sepenuhnya dari hasil.
7)    Pengawasan hanyalah alat administrasi, pelaksanaan pengawasan harus mempermudah tercapainya tujuan-tujuan. Oleh karena itu, pengawasan harus bersifat membimbing supaya para pelaksana meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas yang ditentukan bagi mereka.
       Sedangkan evaluasi sebagai fungsi administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai dimana pelaksaan yang dilakukan dalam proses keseluruhan organisasi mencapai hasil sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Setiap kegiatan, baik yang dilakukan oleh unsur pimpinan maupun oleh bawahan, memerlukan adanya evaluasi. dengan pegetahuan kesalahan atau kekurangan serta kemacetan yang diperoleh dari tindakan evaluasi itu selanjutya dapat diusahakan bagaimana cara-cara memperbaikinya.
          Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. Pengawasan bertanggung jawab tentang kefektifan program itu. Oleh karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Suervisi sebagai fungsi administrasi pendidikan berarti aktivitas-aktivitas untuk menentukan kondisi-kondisi yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan.
         Penjelasan diatas menghasilkn pemahaman bahwa pengawasan pendidikan dapat dilakukan melalui observasi, dan penyusunan laporan secara akadmik dan keuangan untuk memastikan bahwa ada kinerja yang dicapai dan pertanggung jawaban keuangan dipastikan tidak megalami penyimpangan dengan baik. Dalam konteks ini pengawasan disekolah dapat dilakukan secara periodik dan jiga insidental terhadap seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, kesiswaan, pembinaan personil, dan hubungan masyarakat.

                                                                            BAB III
                                                                          PENUTUP

Kesimpulan
       Administrasi pendidikan adalah suatu kegiatan kerja sama atau proses pengintegrasian segala sesuatu baik personal maupun material yang tergabung dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya agar efektif dan efesien.
    Administrasi pendidikan memiliki fungsi, yaitu:
1.    Perencanaan,
2.    Pengorganisasian,
3.    Penyusunan,
4.    Pengarahan,
5.    Pengkoordinasian,
6.    Penganggaran,
7.    Pergerakan,
8.    Penilaian.
Saran
     Administrasi pendidikan sangat diperlukan dalam kegiatan pendidikan guna untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan tidak hanya itu dapat juga menginventaris kelengkapan media-media atau sarana belajar. Apabila suat sekolah tidak menggunakan administrasi pendidikan maka sekolah itu tidak akan behasil dan cenderung kacau.

MAKALAH TENTANG : KOMUNIKASI

Tuesday, March 28, 2017 Diposkan oleh nggy it 0 komentar
                                                                         BAB I
                                                                 PEMBAHASAN

A.  Pengertian Komunikasi
       Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communication yang berakar dari kata communis, artinya sama makna mengenai sesuatu hal. Dengan kata lain, suatu peristiwa komunikasi akan berlangsung apabila orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki kesamaan persepsi atau makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
      Sebagai sebuah istilah, komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian dan penerimaan pesan atau informasi diantara dua orang atau lebih dengan menggunakan simbol verbal (bahasa) dan nonverbal.
Adapun pembagian komunikasi menurut penyampainnya terbagi atas dua bagian yaitu:

1. KomunikasiLisan dan Tulisan (verbal)
        Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik melalui lisan maupun tulisan atau bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata, dan juga dalam bentuk percakapan maupun tulisan(speak language). Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia.Melalui kata-kata mereka dapat mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan.Dan juga menyampaikan fakta,data, informasi untuk dijelaskan nya, saling bertukar perasaan dan pemikiran,juga untuk saling berdebat.Dalam komunikasi verbal itu bahasa memegang peranan penting.Komunikasi verbal mengandung makna denotative.Media yang sering dipakai yaitu bahasa.Karena bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain.
Ada beberapa unsure penting dalam komunikasi verbal, yaitu:
a.Bahasa
       Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang berbagi makna.Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik.Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain.
       Bahasa memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif.Ketiga fungsi itu adalah:
a.    Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita.
b.    Untuk membina hubungan yang baik di antara sesama manusia
c.    Untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.

b.Kata
      Kata merupakan unit lambang terkecil dalam bahasa.Kata adalah lambang yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, baik dari orang, barang, kejadian, atau keadaan.Jadi kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri.Makna kata tidak ada pada pikiran orang.Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal.Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang.

2. Jenis Komunikasi Verbal
Adapun beberapa jenis komunikasi verbal, yaitu:
a. Berbicara dan menulis
     Bericara adalah komunikasi verbal – vokal.Sedangkan menulis adalah komunikasi verbal - nonvocal.Contoh komunikasi verbal - vocal adalah presentas idalam rapat dan contoh komunikasi verbal – nonvocal adalah surat-menyurat bisnis.
b. Mendengarkan dan membaca
     Mendengar dan mendengarkan itu kata yang mempunyai makna berbeda, mendengar berarti semata-mata memungut getaran bunyi sedangkan mendengarkan adalah mengambil makna dari apa yang di dengar. Mendengarkan melibatkan 4 unsur, yaitu mendengar, memperhatikan, memahami dan mengingat.Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis.

3.  KomunikasiPrilaku (nonverbal)
       Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas  dalam bentuk tanpa kata-kata. Dalam hidupnya komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komunikasi verbal.Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai.Karena itu komunakasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.Komunikasi nonverbal lebihbersifat jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan .
         Komunikasi nonverbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan/perbuatan (action) atauobjek (object) yaitu:
• Bahasa Tubuh. Bahasa tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan, gerak-gerik tubuh mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak, dan sikap orang.
•  Tanda. Dalam komunikasi  nonverbal tanda mengganti kata-kata, misalnya, bendera, rambu-rambu lalu lintas darat, laut, udara, aba-aba dalam olahraga.
• Tindakan/perbuatan.Ini sebenarnya tidak khusus dimaksudkan mengganti kata-kata, tetapi dapat menghantarkan makna. Misalnya, menggebrak meja dalam pembicaraan, menutup pintu keras-keras pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua itu mengandung makna tersendiri.
• Objek .Objek sebagai bentuk komunikasi nonverbal juga tidak mengganti kata, tetapi dapat menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah, perabot rumah, harta benda, kendaraan, hadiah .
Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam komunikasi nonverbal adalah sebagai berikut:
    Paralinguistik, yaitu suara, bunyi, atau jeda (diam sejenak) yang menyertai tuturan seseorang untuk menandakan emos iatau perasaan serta sikap pelaku komunikasi.
    Kinesik, yaitu gerak atau perubahan unsur-unsur tubuh yang menyertai suatu tuturan.

B.    PerbedaanAntaraKomunikasi Verbal dan Nonverbal
       Ada perbedaan antara kedua sistem komunikasi. Pertama, komunikasinonverbal yang dianggap lebih jujur. Jika perilaku verbal dan nonverbal yang tidak konsisten, kebanyakan orang percaya perilaku nonverbal. Ada sedikit bukti bahwa perilaku nonverbal sebenarnya lebih dapat dipercaya daripada komunikasi verbal, setelah semua, kita sering mengontrolnya cukup sadar. Meskipun demikian, hal itu dianggap lebih dapat dipercaya. (Anderson, 1999)
       Kedua, tidak seperti komunikasi verbal, komunikasi nonverbal adalah multi disalurkan. komunikasi verbal biasanya terjadi dalam satu saluran, komunikasi verbal lisan yang diterima melalui pendengaran, dan komunikasi verbal tertulis dapat dilihat dan didengar.
Ketiga, komunikasi verbal adalah diskrit, sedangkan komunikasi nonverbal terus menerus .
      Dalam pemikiran Don Stacks dan kawan-kawan, ada dua perbedaan di antara keduanya yaitu kesengajaan pesan dan perbedaan simbolik yaitu:
a. Kesengajaan (intentinolity)
        Satu perbedaan utama antara komunikasi verbal dan nonverbal adalah persepsi mengenai niat. Pada umumnya niat ini menjadi lebih penting ketika kita membicarakan lambang atau kode verbal. Michael Burgoon dan Michael Ruffner menegaskan bahwa sebuah pesan verbal adalah komunikasi kalau pesan tersebut:
1).  dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan
2).  diterima oleh penerima secara sengaja pula.
        Komunikasi nonverbal tidak banyak dibatasi oleh niat tersebut. Sebab, komunikasi nonverbal cenderung kurang dilakukan dengan sengaja dan kurang halus apabila dibandingkan dengan komunikasi verbal. Selain itu, komunikasi nonverbal mengarah pada norma-norma yang berlaku, sementara niat tidak terdefinisikan dengan jelas. Misalnya, norma-norma untuk penampilan fisik. Kita semua berpakaian, namun beberapa sering kita dengan sengaja berpakaian untuk sebuah situasi tertentu? Berapa kali seorang teman memberi komentar terhadap penampilan kita? Persepsi receiver mengenai niat ini sudah cukup untuk memenuhi persyaratan guna mendefinisikan komunikasi nonverbal.

b. Perbedaan simbolik (symbolic differences)
       Kadang-kadang niat ini dapat dipahami karena beberapa dampak simbolik dari komunikasi kita. Misalnya, memakai pakaian dengan warna atau model tertentu, mungkin akan dipahami sebagai suatu `pesan' oleh orang lain (misalnya berpakaian dengan warna hitam akan diberi makna sebagai ungkapan ikut berduka cita).
        Komunikasi verbal dengan sifat-sifatnya merupakan sebuah bentuk komunikasi yang diantarai (mediated form of communication). Dalam arti kita mencoba mengambil kesimpulan terhadap makna apa yang diterapkan pada suatu pilihan kata. Kata-kata yang kita gunakan adalah abstraksi yang telah disepakati maknanya, sehingga komunikasi verbal bersifat intensional dan harus 'dibagi' di antara orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Sebaliknya, komunikasi nonverbal lebih alami, isi beroperasi sebagai norma dan perilaku yang didasarkan pada norma. Mehrabian menjelaskan bahwa komunikasi verbal dipandang lebih eksplisit dibanding bahasa nonverbal yang bersifat implisit. Artinya, isyarat-isyarat verbal dapat didefinisikan melalui sebuah kamus yang eksplisit dan lewat aturan-aturan sintaksis (kalimat), namun hanya ada penjelasan yang samar-samar dan informal mengenai signifikansi beragam perilaku nonverbal.
         Komunikasi verbal lebih spesifik dari bahasa nonverbal, dalam arti dapat dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam sebuah cara yang berubah-ubah, sedangkan bahasa nonverbal lebih mengarah pada reaksi-reaksi alami seperti perasaan atau emosi.
        Masih dalam buku Komunikasi Antar Budaya karya Ilya SunarwinadiSamovar, Porter dan Jain melihat perbedaan antara komunikasi verbal dan nonverbal dalam hal sebagai berikut:
a.    Banyak perilaku nonverbal yang diatur oleh dorongan-dorongan biologik. Sebaliknya komunikasi verbal diatur oleh aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang dibuat oleh manusia, seperti sintaks dan tata bahasa. Misalnya, kita bisa secara sadar memutuskan untuk berbicara, tetapi dalam berbicara secara tidak sadar pipi menjadi memerah dan mata berkedip terus-menerus.
b.    Banyak komunikasi nonverbal serta lambang-lambangnya yang bermakna   universal. Sedangkan komunikasi verbal lebih banyak yang bersifat spesifik bagi kebudayaan tertentu.
c.    Dalam komunikasi nonverbal bisa dilakukan beberapa tindakan sekaligus dalam suatu waktu tertentu, sementara komunikasi verbal terikat pada urutan waktu.
d.    Komunikasi nonverbal dipelajari sejak usia sangat dini. Sedangkanpenggunaan lambang berupa kata sebagai alat komunikasi membutuhkan masa sosialisasi sampai pada tingkat tertentu.
e.    Komunikasi nonverbal lebih dapat memberi dampak emosionaldibanding komunikasi verbal.

C.    FungsiKomunikasi Verbal dan Nonverbal
      Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki perbedaan, namun keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya tindakan komunikasi yang efektif. Fungsi dari lambang-lambang verbal maupun nonverbal adalah untuk memproduksi makna yang komunikatif.
Fungsi lain dari komunikasi nonverbal adalah mengatur pesan verbal. Pesan-pesan nonverbal berfungsi untuk mengendalikan sebuah interaksi dalam suatu cara yang sesuai dan halus, seperti misalnya anggukan kepala selama percakapan berlangsung.Selain itu,komunikasi nonverbal juga memberi penekanan kepada pesan verbal, seperti mengacungkan kepala dan    tangan. Dan akhirnya fungsi komunikasi non verbal adalah pelengkap pesan verbal dengan mengubah pesan verbal , seperti tersenyum untuk   menunjukkan rasa  bahagia kita.
        Komunikasi nonverbal digunakan untuk memastikan bahwa makna yang sebenarnya dari pesan pesan verbal dapat dimengerti atau bahkan tidak dapat dipahami. Keduanya, komunikasi verbal dan nonverbal, kurang dapat beroperasi secara terpisah, sesuatu sama lain saling membutuhkan guna mencapai komunikasi yang efektif.

                                                                    BAB III
                                                                  PENUTUP
A.    Kesimpulan
        Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communication yang berakar dari kata communis, artinya sama makna mengenai sesuatu hal. Dengan kata lain, suatu peristiwa komunikasi akan berlangsung apabila orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki kesamaan persepsi atau makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
        Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik melalui lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal, tanpa kata-kata, lebih ke ekspresi. Contohnya dengan cara menulis, mengucapkan dan mendengar. Dalam komunikasi verbal terdapat dua unsur penting, yaitu bahasa dan kata. Dalam komunikasi nonverbal terdapat beberapa unsur penting, yaitu: bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan/perbuatan (action) atau objek (object). Contohnya dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa tubuh dan gerak tubuh.

B.    Saran
        Berkomunikasi yang baik adalah komunikasi yang menggunakan bahasa dan kata yang baik dan teratur agarmudahdimengerti oleh orang lain. Baik itu melalui lisan, tulisan maupun gerakan tubuh.


MAKALAH TENTANG : PELAKU DOSA BESAR, IMAN DAN KUFUR

Saturday, March 25, 2017 Diposkan oleh nggy it 0 komentar
                                                                Kata Pengantar

       Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah taufik, dan inayahnya kepada kita semua. Sehingga saya bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridhonya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Makalah ini kami beri judul "Pelaku Dosa Besar, iman dan Kufur" dengan tujuan untuk mengetahui bagaimanakah sebenarnya pelaku dosa besar, iman dan kufur menurut pandangan umatislam dalam berbagai aliran.
     Sholawat serta salam semoga tetap tereurahkan kepada junjungan kita Revolusi Akbar Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak dihari kiamat.
      Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pmebimbingan yang telah banyak memberikan arahan dan juga bimbingan kepada penulis sehingga penulis tetap bersemangat dalam belajar dan beraktivitas sehari-hari.
      Dan penulis ucapkan juga terima kasih kepada sahabat-sahabat yang telah banyak berpartisipasi dalam penulisan makalah ini.
     Penulis memohon ma’af jika terdapat kesalahan-kesalahan baik itu kesalahan dalam penulisan maupun susunan kalimat yang kurang tepat, dan juga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi tercapainya kesempurnaan makalah selanjutnya.
     Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis umumnya dan khususnya bagi pembaca. Amiiin...
Padangsidimpuan, 17 Mei 2015

                            PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN IMAN DAN KUFUR

A. Pendahuluan

        Ilmu kalam sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Di dalam ilmu kalam itu terdapat subbahasan tentang perbandingan antara aliran-aliran serta ajaran-ajarannya. Dari perbandingan antar aliran ini kita dapat mengetahui, menela'ah dan membandingkan antar paham aliran satu dengan aliran yang lain. Sehingga kita memahami maksud dari segala polemik yang ada.
Persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam artian siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. Persoalan ini kemudian menjadi perbincangan aliran-aliran kalam dengan konotasi yang lebih umum, yakni status pelaku dosa besar Kerangka berpikir yang digunakan tiap-tiap aliran ternyata mewarnai pandangan mereka tentang status pelaku dosa besar.
         Selain itu persoalan yang juga timbul dalam teologi Islam adalah masalah iman dan kufur. Persoalan itu muncul pertama kali oleh kaum Khawari tatkala mencap kafir sejumlah tokoh sahabat Nabi SAW yang dipandang telah berbuat dosa besar, antara lain Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa Al-Asy'ari, Amr bin Al-Ash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Aisyah, istri Rasulullah SAW.
       Pernyataan teologis itu selanjutnya bergulir menjadi bahan perbincangan dalam setiap diskursus aliran-aliran teologi Islam yang tumbuh kemudian, termasuk aliran Murji'ah Aliran lainnya, seperti Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah turut ambil bagian dalam polemik tersebut. Malah tak jarang di dalam tiap-tiap aliran tersebut terdapat perbedaan pandangan di antara sesama pengikutnya.
       Untuk itu disini penulis akan coba paparkan sedikit mengenai permasalahan antara perbandingan aliran-aliran ilmu kalam yang berhubuangan dengan pemahaman mengenaiman dan kufur.

B. Pengertian Iman dan Kufur
       Jika dilihat dari asal bahasa kata iman berasal dari bahasa arab yang berarti membenarkan dan dalam bahasa Indonesia kata iman berarti percaya yaitu sebuah kepercayaan dalam hati dan membenarkan bahwa adanya Allah SWT itu benarbenarada serta membenarkan dan mengamalkan semua yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan mempercayai Rasul-Rasul sebelumnya. Iman merupakan inti dasar dari sebuah peribadatan tanpa adanya keimanan sangat mustahil seseorang dapat membenarkan adanya Tuhan.
Menurut pendapal-pendapat ulama fiqih bahwa iman merupakan sebuah Tasdi di dalam hati hal tersebut yaitu menurut, antara lain:
1. Menurut Abu Abdullah bin Khafif Ilman adalah sebuah pembenaran hati terhadap sesuatu yang telah dijelaskan oleh Al Haq (Allah) tentang masalah-masalah yang gaib
2. Menurut Abdullah At Tustari Bahwa iman adalah merupakan kesaksian Al-haq dalam. Karena jika Allah di pandang dengan penglihatan tanpa pembatas dan jika dengan pengetahuan tanpa berakhir.
        Menurut Hasan Hanafi, setidaknya ada empat istilah kunci biasanya dipergunakan oleh para theology Muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu :
 l Ma'rifah bi al-al; mengetahui dengan akal
2. Amal; perbuatan baik atau patuh
3. Igrari; pengakuan secara lisan dan
4. Tasdiq; membenarkan dalam hati
        Dari pendapat para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa iman merupakan hal yang bersangkutan dengan hati. Semua hal-hal yang gaib seperti Tuhan, sifat-sifatnya, akhirat, takdir, rejeki, dan sebagainya merupakan sebuah pembenaran dan kepercayaan hati. Jika dipahami secara mendalam iman mempunyai hubungan yang sangat erat kaitannya dengan amaliyah-amaliyah atau perbuatan. Amaliyah-amaliyah atau perbuatan merupakan tolak ukur keimanan seseorang.
       Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikan dirinya dekat dengan Allah, maka dapat dipastikan bahwa seseorang tersebut beriman kepada Allah yaitu dengan menjalankan syarat-syariatnya yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw.
       Kufur dalam pengertian bahasa arab berarti menyembunyikan dan menutup. Orang arab menyebut "malam itu kafir, karena malam menyembunyikan sesuatu. Mereka juga menyebut "petani" dengan kata kafir karena petani menutup benih dalam tanah.” Adapun menurut syara', kufur dibedakan menjadi dua, yaitu kufuraqidah yang berarti mengingkari dengan apa yang wajib dimani dan kufurnikmat yang artinya mengingkari bahwa nikmat yang diterima bukan dari sang Kholiq.

C. Perbandingan Antar Aliran Mengenai Iman dan Kufur
1.Aliran Khawarij

       Khawari menetapkan dosa itu hanya satu macamnya, yaitu dosa besar agar dengan demikian orang Islam yang tidak sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat dirampas harta bendanya dengan dalih mereka berdosa dan setiap yang berdosa adalah kafir. Mengkafirkan Ali Utsman, orang-orang yang terlibat dalam perang lamal dan orang-orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan orang-orang yang berdosa besar dan wajib berontak terhadap penguasa yang menyeleweng.
     Dalam pandangan Khawarij, iman tidak semata-mata percaya kepada Allah. Mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Dengan demikian, siapapun yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan mengakui Muhammad adalah Rasul-Nya, tetapi tidak melaksanakan kewajiban agama dan malah melakukan perbuatan dosa, ia dipandang kafir oleh Khawari.
Iman menurut Kwahari bukanlah tahdig Dan iman dalam arti mengetahui pun belumlah cukup. Menurut Abd Al-jabbar, orang yang tahu
        Tuhan tetapi melawan kepadanya, bukanlah orang yang mukmin, dengan demikian iman bagi mereka bukanlah tasÄ¥adig, bukan pula ma'rifah tetapi amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui Tuhan tegasnya iman bagi mereka adalah pelaksanaan perintah-perintah Tuhan.

2. Aliran Murji'ah
       Menurut subsekte Murji'ah yang ekstrim, mereka berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
        Sementara yang dimaksud Murji'ah moderat adalah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal didalamnya bergantung pada dosa yang dilakukannya. Ciri khas mereka lainnya adalah dimasukkannya iqrar sebagai bagian penting dari iman disamping tashdi (ma'rifah.
        Jika dilihat dari paham-paham golongan ini mengenai iman dan kufur, Murji'ah bisa di kategorikan sebagai paham antagonis dari Khawarij, Khawari yang menekankan pemikirannya pada masalah siapa yang dianggap kafir, sedangkan Murji'ah menekankan pada paham mengenai siapakah yang di anggap masih mukmin dan masih dalam keadaan Islam.
       Selain itu Khawari yang menitik beratkan iman pada perbuatan seseorang, maka Murji'ah tidak menyangkut-pautkan iman dengan perbuatan seseorang, dengan kata lain menurut Murji'ah iman tidak di lihat dari perbuatan baik atau buruknya seseorang.
         Golongan yang mengaku berada di posisi netral di antara golongan khawarij dan Syiah ini berpendapat bahwa iman seseorang tidak hilang lantaran dosa besar yang di lakukannya. Menurut mereka dan sesuai dengan nama Murji'ah yang berasal dari kata (aja ah ) yang berarti menunda berpendapat bahwa apapun persoalan dosa besar yang mereka buat itu ditunda penyelesainnya kehari perhitungan kelak.
        Pandangan iman menurut Murji'ah adalah mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT. Dan bahwa Nabi Muhammad SAW. Adalah Rasulnya. Dan selama seseorang masih mempercayai dan mengakui tiada Tuhan selain Allah SWT. Dan Nabi Muhammad SAW. Adalah utusannya, meskipun telah melakukan dosa besar orang tersebut masih tetap mukmin dan bukan kafir ini merupakan kesimpulan logis dari pendirian bahwa yang menentukan mukmin atau kafirnya seseorang hanyalah kepercayaan atau imannya dan bukan perbuatan atau amalnya.
          Dalam perkembangannya Murji'ah digolongkan menjadi dua: subsekte ekstrim dan subsekte moderat, yang akan di delaskan secara umum di bawah ini. 

a.    Murji'ah Ekstrim
        Murji'ah Ekstrim meliputi berbagai macam subsekte, yang di golongkan menjadi Murji'ah Ekstrin adalah golongan Murji'ah yang sangat dominan mengatakan bahwa iman sama sekali tidak di pengaruhi oleh perbuatan, mereka mengatakan bahwa iman semata-mata hanya di dalam hati, walaupun lidah dan perbuatan mengatakan tidak percaya kepada Allah SWT. Tapi dikembalikan lagi pada hati orang itu sendiri, maka hatiadalah semata-mata penentu iman seseorang.
     Seperti golongan al-Jahmiyah, golongan ini mengatakan bahwa Islam yang percaya pada Tuhan dan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya hanyalah dalam hati, bukan bagian lain dari tubuh manusia, bahkan mereka mengatakan bahwa orang-orang yang menyembah berhala, menjalankan ajaran-ajaran yahudi atau agama kristen dengan menyembah salib, mengatakan percaya dengan rinity dan kemudian mati. Orang demikian bagi Allah SWT. Tetap merupakan seorang Mukmin yang sempurna imannya, selama masih mempercayai Allah SWT. Dalam hatinya.
        Menurut subsekte Murji'ah Ekstrim apapun ucapan tidak selamanya menggambarkan apa yang ada di dalam kalbu, hal itu yang membuat kelompok Murji'ah ekstrim mengatakan bahwa seseorang masih sempurna imannya apabila dalam hati masih mempercayai Tuhan walaupun perbuatannya telah menyimpang dari kaidah-kaidah agama.

b.    Murji'ah Moderat

        Pada dasarnya golongan Murji'ah moderat tidak jauh berbeda dengan golongan Murji'ah ekstrim, yang membedakan adalah: iman selain di dalam hati (tashadiq), ia juga disertai dengan lisan (iqraar).
 Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal di dalam neraka, tetapi akan di hukum di dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang di lakukannya, dan ada kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya, oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali.
        Abu Hanifah di kategorikan masuk pada paham golongan moderat, adapun definisi iman menurut Abu Hanifah sebagai berikut: iman adalah pengetahuan dan pengakuan tentang Tuhan, tentang Rasul-Rasul-Nya dan tentang segala apa yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan dan tidak dalam perincian; iman tidak mempunyai sifat bertambah atau berkurang dan tidak ada perbedaan antara manusia dalam haliman.

3. Aliran Mu'tazilah
        Seluruh pemikir Mu'tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam konsep iman. Aspek penting lainnya dalam konsep Mu'tazilah tentang iman adalah apa yang mereka identifikasikan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal). Ma’rifah menjadi unsur penting dari iman karena pandangan Mu'tazilah yang bercorak rasional. Disini terlihat bahwa Mu'tazilah sangat menekankan pentingnya pemikiran logis atau penggunaan akal bagi keimanan. Harun Nasution menjelaskan bahwa menurut Mu'tazilah, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan segalakewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam.
        Pandangan Mu'tazilah seperti ini, menurut Toshihiko Izutsu, pakar teologi Islam asal Jepang, menyatakan pendapatnya bahwa hal ini sarat dengan konsekuensi yang cukup fatal Hal ini karena hanya para mutakalim (teolog) saja yang benar-benar dapat menjadi orang yang beriman, sedangkan masyarakat awam yang mencapai jumlah mayoritas tidak dipandang sebagai orang yang benar-benar beriman (mukmin).
Ilman adalah tashdiq di dalam hati, ikrar dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan konsep ketiga ini mengaitkan perbuatan manusia dengan iman, karena itu, keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini dianut pula oleh Khawarij.

4. Aliran Asy'ariyah
         Agak pelik untuk memahami iman yang diberikan oleh Abu Al-Hasan AlAsy'ari sebab, di dalam karya-karyanya seperti Maqalat, Al-Albanah, dan AlLuma, ia mendefinisikan iman secara berbeda-beda. Dalam magalat dan AlIbanah disebutkan bahwa iman adalah gawi dan amal dan dapat bertambah serta berkurang. Dalam Al-Luma, iman diartikannya sebagai tashdiq bi Allah. Argumentasinya, bahwa kata mukmin seperti disebutkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat7 memiliki hubungan makna dengan kata sadiqin dalam ayat itu juga. Dengan demikian, menurut Al-Ary'ari, iman adalah tashdiq bi alqalb (membenarkan dengan hati). Di antara definisi iman yang diinginkan Al-Asy'ari dijelaskan oleh Asy-Syahrastasi, salah seorang teolog Asy'ariyah. Asy-Syahrastani menulis:
        "Al-Asy'ari berkata: ". iman adalah Iashdie bi aljanan (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan mengatakan (gawi) dengan lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan cabangcabang iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan keesaan Tuhan dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusanNya beserta apa yang mereka bawa darinya, iman orang semacam itu merupakan iman yang sahih
          Dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut. Jadi, bagi Al-Asy'ari dan juga Asy'ariyah, persyaratan minimal untuk adanya iman hanyalah tashdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahadatain.
        Menurut aliran ini, dijelaskan oleh Asy-Syahrastani, iman secara esensial adalah tashdiq bil aljanan (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan qawi dengan lesan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi arkan) hanya merupakan furu' (cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan ke-Esaan Allah dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusan-Nya beserta apa yang mereka bawa dari-Nya, iman secara ini merupakan sahih. Dan keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut. Jadi Asy-Syahrastani menempatkan ketiga unsur iman yaitu tashdiq, gawl, dan amal pada posisinya masing-masing.

5.Maturidiyah
        Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah Tashdi bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan Pengertian ini di kemukakan oleh Al-Maturidi sebagai bantahan terhadap AlKaramiyah, salah satu Sub sekte Murji'ah, ia beragumentasi dengan ayat AlQur'an Surah Al-Hujrat ayat 14.
       Ayat tersebut dipahami sebagai Maturidiyah sebagai penegasan bahwa keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkatan, tanpa di lamani oleh pula kalbu, Apa yang di ucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah, al-Maurid tidak berhenti sampai di situ. Menurutnya, fashdi seperti yang dipahami di atas, harus diperoleh dari Ma'rifah Iashdi hasil dari Ma'rifah ini di dapatkan melalui penalaran akal, bukansekedar berdasarkan wahyu. Lebih lanjut, maturiidi berdasarkan pandangannya pada dalil naqli surat Al-Baqarah ayat 260. Menurut Al-Maturdi iman adalah tashdi yang berdasarkan ma'rifah.
        Meskipun demikian, ma'rifah menurutnya sama sekali bukan esensi iman, melainkan faktor penyebab kehadiran iman.
       Mauridiyah Bukhara mengembangkan pendapat yang berbeda. AlBazdawi menyatakan bahwa iman tidak dapat berkurang, tetapi bisa bertambah dengan adanya ibadah-ibadah yang dilakukan. Al-Bazdawi menegaskan hal tersebut dengan membuat analogi bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan berfungsi sebagai bayangan dari iman. Jika bayangan itu hilang. esensi yang digambarkan oleh bayangan itu tidak akan berkurang. Sebaliknya, dengan kehadiran bayang-bayang (ibadah) itu, iman justru menjadi bertambah.
 Iman adalah tashdie dalam hati dan dikrarkan dengan lidah, dengan kata lain, seseorang bisa disebut berimanjika ia mempercayai dalam hatinya akan kebenaran Allah dan mengikrarkan kepercayaannya itu dengan lidah, Konsep ini juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan manusia, yang penting tashdiq dan ikrar.

D. Kesimpulan
        Berdasarkan paparan diatas jelaslah bahwa dalam konsep iman dan kufur terdapat perbedaan pendapat diantara aliran-aliran teologi Islam. Perbedaan itu menurut Harun Nasution, sedikit banyak dipengaruhi oleh teori kekuatan akal dan fungsi wahyu. Bagi aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal mencapai kewajiban mengetahui Tuhan (KMT) iman melibatkan ma'rifah di dalamnya. Dengan demikian, kita melihat Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand tergolong dalam kelompok ini karena menyebutkan ma'rifah dalam konsep iman dan mereka berendapat bahwa akal dapat mencapai KMT Adapun murji'ah tidak dapat dikategorikan dalam kelompok ini sebab meskipun mereka menyebut ma'rifah yang dimaksudkannya bukanlah ma'rifah bi al-qaib.
        Sebaliknya aliran-aliran yang tidak berpendapat bahwa akal dapat mencapai KMT. Iman dalam konsep mereka tidak melibatkan ma'rifah didalamnya, Hal ini dapat kita temukan dalam aliran Asy'ari, Ma'turidiyah Bukhara. Aliran Khawarij. karena corak pemikiran kalam mereka lebih bertendensi politik ketimbang intelektual, termasuk dalam kategori kelompok ini.
         Aliran-aliran yang mengintegrasikan amal sebagai salah satu unsur keimanan, yakni Mu'tazilah dan Khawarij, memandang bahwa iman dapat bertambah atau berkurang. Sementara aliran-aliran yang tidak memasukan amal sebagai unsur dari iman seperti Murji'ah, Asy'ariyah, Ma'turidiyah. Samarkand dan Ma'uridiyah Bukhara, berpendapat bahwa iman tidak dapat bertambah atau berkurang. Kalaupun iman dapat dikatakan bertambah atau berkurang hal itu terjadi pada segi sifatnya.
        Konsekuensi penting lainnya dari pernyataan bahwa amal merupakan unsur penting dari iman adalah pandangan yang tegas terhadap kewajiban menegakkan amar ma’ruf dan nahy mungkar dengan segala kemampuan yang dimiliki, Berdasarkan hadist Rasulullah SAW. Tentang amar ma’ruf dan nahy mungkar, jelaslah bahwa aliran-aliran teologi islam yang memasukkan empat unsur pokok ke dalam konsep iman memiliki keimanan yang paling kokoh. Sebaliknya, aliranaliran yang hanya mengakui satu unsur pokok di dalam konsep iman 

Daftar Pustaka
Asmuni, M. Yusran. Ini Tauhid Jakarta. Raja Grafindo Persada 1993
http://mankazand.blogspot.com/2011/05/iman-dan-kufur-dalam-perspektif-antar.html
Nasir, Sahilun A. Pengantar In Kalan Raja Grafindo Persada, Jakarta 1996
Nasution, Harun Teolog Islan Aliran-aliran sejarah Analisis Perbandingan,
       Jakarta: Upress. 2006
Rahman, Abdur Garis Pemisah Antara Kufiar dan Innan Jakarta: Bumi Aksara, 1996
Rozak, Abdul dan Roshon Anwar, Inu Kalan Bandung Pustaka Setia 2006

Label:

MAKALAH TENTANG : PANDANG ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN

Friday, March 24, 2017 Diposkan oleh nggy it 0 komentar
                                                                KATA PENGANTAR

       Puji syukur kehadirat ALLAH SWT kami panjatkan, karena dengan limpahan rahmat taufiq dan hidayahnya kami bisa menyelesaikan tugas kelompok yang berjudul "Pandangan Islan Terhadap Kebudayaan".
         Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam pengerjaan makalah ini. Kepada teman-teman yang membantu memberi masukan dukungan dan sumbangan pikiran kepada kamiatas terselesainya makalah ini.
         Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan apabila ada kritik atau pun saran dari pembaca kami mengucapkan terimakasih dan akan kami evaluasi lagi, karena kritik dan saran dari pembaca bias menyempurnakan makalah ini.
        Kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam makalah ini besar harapan kami adalah semoga makalah ini dapat bermanfaat

                                                                       BABI
                                                            PENDAHULUAN


           Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture. Berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa juga diartikan mengolah tanah atau bertani. Kata culture, juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
         Kemusyrikan yang sudah diredam itu adalah ruwatan. Sebelum tahun 1990-an, kegiatan ruwatan jarang sekali terdengar dan sudah terkubur. Tetapi sejak tahun 2000, terutama pada saat pemerintahan Abdurrahman Wahidalias Gus Dur, acara ruwatan muncul kembali. Konon menurut informasi yang beredar, Gus Dur pun diruwa oleh seorang paranormal bernama Romo Bahkan di universitas ternama, seperti Universitas Gajah Mada pun melakukan ritual ruwat yang diberi nama Ruwatan Bangsa

                                                                   BAB II
                                                           PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan
         Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: " budaya" adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang kebudayaan" adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
          Secara umum arti kebudayaan ialah suatu hasil daya pemikiran dan pemerahan tenaga lahir manusia, ia adalah gabungan antara tenaga fikiran dengan tenaga lahir manusia ataupun hasil daripada gabungan tenaga batin dan tenaga lahir manusia. Yang dimaksudkan gabungan antara tenaga batin (daya pemikiran) dengan tenaga lahir ialah suatu pemikiran manusia yang dilaksanakan dalam bentuk perbuatan. Maka hasil daripada gabungan inilah yang dikatakan kebudayaan.
      Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Casirer membagi kebudayaan menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spiritual, 2, Bahasa dan Kesusastraan, 3. Kesenian, 4. Sejarah dan 5. Ilmu Pengetahuan.

B.Kebudayaan dalam Islam
       Islam tidak bisa dianggap kebudayaan karena Islam bukan hasil dari pemikiran dan ciptaan manusia. Agama Islam adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang mengandung peraturan-peraturan untuk jadi panduan hidup manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tetapi agama-agama (yang telah banyak mengalami perubahan) selain Islam memang kebudayaan, sebab agama-agama tersebut adalah hasil ciptaan dan daya pemikiran manusia
      Walaupun bukan kebudayaan tetapi agama islam sangat mendorong, bahkan turut mengatur penganutnya untuk berkebudayaan. Agama Islam
         Jadi apa sebenarnya kebudayaan Islam? Umumnya suatu yang dicetuskan itu bersih dengan ajaran Islam baik dalam bentuk pemikiran ataupun sudah berupa bentuk sikap atau perbuatan, dan ia didorong oleh perintah wahyu. Itulah yang benar-benar dinamakan kebudayaan (tamadun) Islam.
Jika ajaran agama Islam ini diamalkan seungguh-sungguh, umat Islam akan jadi maju, Dan dengan kemajuan yang dihasilkan itu, lahirlah kebudayaan atau tamadun. Semakin banyak umat Islam mengamalkan hukum Islam, semakin banyak kemajuan dihasilkan dan semakin banyak pula kebudayaan atau tamadun Islam yang lahir.

C. Wujud / Bentuk Kebudayaan Islam
 Bentuk atau wujud kebudayaan Islam dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.    Wujud Ideal (gagasan)
     Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan yang sifatnya abstrak. Wujud kebudayaan ini terletak di dalam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan idealitu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
 Kebudayaan Islam yang berwujud ideal diantaranya:
 a. Pemikiran di bidang hukum Islam muncul ilmu fiqih
 b. Pemikiran di bidang agama muncul ilmu Tasawuf dan ilmu tafsir
 c. Pemikiran di bidang sosial politik muncul sistem khilafah Islam (pemerintahan Islam) yang diprakarsai oleh  Nabi Muhammad dan diteruskan oleh Khulafaurrosyidin
 d. Pemikiran di bidang ekonomi muncul peraturan zakat, pajakjizyah (pajak untuk non Muslim), pajak Kharaj (pajak bumi), peraturanghanimah (harta rampasan perang)
e. Pemikiran di bidang ilmu pengetahuan muncul ilmu sejarah, filsafat, kedokteran, ilmu bahasa dan lain-lain.

2.   Wujud Aktivitas
     Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dapat diamati dan didokumentasikan.
 Kebudayaan Islam yang berwujud aktivitas adalah sebagai berikut:
a. Pemberlakuan hukum Islam seperti potongtangan bagi pencuri dan hukum rajam bagi pezina
b. Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan Islam pada masa Dinasti Umayyah (masa khalifah Abdul Malik bin Marwan) memunculkan gerakan ilmu pengetahuan dan penterjemahan ilmu-ilmu yang berbahasa Persia dan Yunani ke dalam bahasa Arab, Gerakan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah, dimana kota Baghdad dan Iskandariyah menjadi pusat ilmu pengetahuan ketika itu.
3. Wujud Artefak (benda)
       Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraha, dilihat, dan didokumentasikan, Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Contoh kebudayaan Islam yang berbentuk hasil karya di antaranya: seni ukiran kaligrafi yang terdapat di masjid-masjid, arsitektur-arsitektur masjid dan lain sebagainya."
 Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. 
Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
 Contoh Kebudayaan Islam lainnya adalah sebagai berikut:
a. Di bidang Seni : Syair, Kaligafi, Hikayat, Suluk, Babad, Tari Saman, tari Zapin,
b. Dibidang Fisik:Masjid, Istana, Keraton, Di Bidang Pertunjukan:Sekaten, Wayang Hadrah, Qasidah,
d. Dibidang Tradisi Aqiyah, Khitanan, Halal Bihalal, Sadranan, Beranzi

D.Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam
         Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami prosesakulturasi (proses bercampurnya dua atau lebih kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia.
       Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.
        Salah satu hasil akulturasi kebudayaan tersebut dapat kita lihat pada beberapa bangunan masjid yang ada di Indonesia yang atapnya bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Hal itu menunjukkan bahwa bangunan masjid tersebut adalah hasil dari penggabungan kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Islam

E.Konsep Kebudayaan Islam
        Secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi,mciptarasa, karsa, dan karya manusia. Kebudayaan pasi tidak lepas dari nialai-nilai ketuhanan.
       Kebudayaan yang telah terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang universal berkembang menjadi peradaban. Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri. Disini agama Islam berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradabatau berperadaban Islam.
      Sehubungan dengan hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilainilai ketuhanan atau disebut sebagai peradaban Islam, maka fungsi agama di sini semakinjelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan karena keterbatasan dalam memecahkan persoalannya sendiri, disini sangat terasa akan perlunya suatu bimbingan wahyu.
Allah mengangkat seorang Rasul dari jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat manusia. Oleh sebab itu misi utama Muhammad diangkat sebagai Rasul adalah menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam. Mengawali tugas utamanya, Nabi meletakkan dasardasarkebudayaan Islam yang kemudian berkembang menjadi peradaban Islam.
       Ketika dakwah Islam keluar dari jazirah Arab, kemudian tersebar keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjang dan rumit, yaitu asimilasi (penyesuaian) budaya-budaya setempat dengan nilai-nilai Islam yang kemudian menghasilkan kebudayaan Islam. Kebudayaan ini berkembang menjadi suatu peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.

F.Prinsip-prinsip Kebudayaan Islam
        Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa mudarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
        Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwaiisi Undang-undang Dasar Negara Indonesia pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan : " Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adah, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
 Dari situ, Islam telah membagi budaya menjaditiga macam.
Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam, seperti : kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan di kalangan masyarakat Aceh, misalnya keluarga wanita biasanya menentukan jumlah maskawin sekitar 50-100 gram emas.
Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam. Contoh yang paling jelas adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti thowaf di Ka'bah dengan telanjang
Ketiga : Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam, Seperti, budaya ngaben "yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

G.Sejarah Intelektual Islam

        Diskusi sains dan Islam ada baiknya dimulai dari satu peristiwa monumental yang menandai lahirnya sains modern, yakni Revolusi Ilmiah pada abad ke 17 di Eropa Barat yang menjadi "cikal bakal" munculnya sains moderns sebagai sistem pengetahuan universal. Dalam historiografi sains, salah satu pertanyaan besar yang selalu menjadi daya tarik adalah: Mengapa Revolusi ilmiah tersebut tidak terjadi di peradaban Islam yang mengalami masa kejayaan berabadabad sebelum bangsa Eropa membangun sistem pengetahuan mereka?
      Sekarang mari kita menengok ke sejarah yang lebih awal tentang peradaban Islam dan sistem pengetahuan yang dibangunnya. Catatan A.I. Sabra dapat kita jadikan salah satu pegangan untuk melihat kontribusi peradaban Islam dalam sains. Dalam pengamatannya, peradaban Islam memang mengimpor tradisi intelektual dari peradaban Yunani Klasik. Tetapi proses ini tidak dilakukan begitu saja secara pasif melainkan dilakukan melalui proses penyesuaian dengan nilainilai Islam. Dengan demikian peradaban Islam mampu mengambil mengolah, dan memproduksi suatu sistem pengetahuan yang baru, unik, dan terpadu yang tidak pernah ada sebelumnya.
        Ada dua hal yang dicatat Sabra sebagai kontribusi signifikan peradaban Islam dalam sains. Pertama adalah dalam tingkat pemikiran ilmiah yang diilhami oleh kebutuhan dalam sistem kepercayaan Islam. Penentuan arah kiblat secara akurat adalah salah satu hasil dari konjungsi ini
      Kedua dalam tingkat institusionalisasi sains. Sabra merujuk pada empat institusi penting bagi perkembamngan sains yang pertama kali muncul dalam peradaban Islam, yaitu rumah sakit, perpustakaan umum, sekolah tinggi, dan observatorium astronomi. Semua kemajuan yang dicapai ini dimungkinkan oleh dukungan dari penguasa pada waktu itu dalam bentuk pendanaan dan penghargaan terhadap tradisi ilmiah.
       Lalu mengapa sains dalam peradaban Islam tidak berhasil mempertahankan kontinyuitasnya, gagal mencapai titik Revolusi Ilmiah, dan justru mengalami penurunan' Salah satu tesis yang menarik datang dari Aydin Sadili. Seperti dijelaskan di atas bahwa keunikan sains dalam Islam adalah masuknya unsur agama dalam sistem pengetahuan. Tetapi, menurut Sadili, disini jugalah penyebab kegagalan peradaban Islamin mencapai Revolusi Ilmiah. Dalam asumsi Sadili, tradisi intelektual Yunani Klasik yang diwarisi oleh peradaban Islam baru dapat menghasilkan kemajuan ilmiah jika terjadi proses rekonsiliasi dengan kekuatan agama. Rekonsiliasi antara sains dan agama tersebut terjadi di peradaban Eropa, tetapi tidak terjadi diperadaban Islam."

H. Masjid sebagai Pusat Kebudayaan Islam
         Masjid pada umumnya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus, seperti shalat padahal fungsi masjid lebih luas dari itu. Pada zaman Rasulullah, masjid berfungsi sebagai pusat peradaban. Nabi mensucikan jiwa kaum muslimin, mengajar Al-qur'an dan Al-hikmah, bermusyawarah berbagai permasalahan umat hingga masalah upaya-upaya peningkatan kesejahteraan umat Dan hal tersebut berjalan hingga 700 tahun. Sejak Nabi mendirikan masjid yang pertama, fungsi masjid dijadikan simbol persatuan umat dan masjid sebagai pusat peribadatan dan peradaban.
         Sekolah-sekolah dan universitas-universitas kemudian bermunculanjustru dari masjid. Masjid Al Azhar di Mesir merupakan salah satu contoh yang dapat dikenal oleh umat Islam di Indonesia maupun dunia. Masjid ini mampu memberikan bea siswa bagi para pelajar dan mahasiswa bahkan pengentasan kemiskinan merupakan program nyata masjid.
       Pada saat ini kita akan sangat sulit menemukan masjid yang memiliki program nyata di bidang pencerdasan keberagamaan umat Kita (mungkin) tidak menemukan masjid yang memiliki kurikulum terprogram dalam pembinaan keberagamaan umat Terlebih-lebih lagi masjid yang menyediakan beasiswa dari upaya pengentasan kemiskinan.
         Dalam perkembangan berikutnya muncul kelompok-kelompok yang sadar untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan pentingnya peranan masjid untuk mencerdaskan mensejahterakan jamaahnya. Menurut ajaran Islam masjid memiliki dua fungsi utama yaitu : (1) sebagai pusat ibadah ritual, dan (2) berfungsi sebagai pusat ibadah sosial. Dari kedua fungsi gersebut titik sentralnya bahwa fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat Islam.

I.Perkembangan Kebudayaan Islam
       Seperti sudah kita lihat, keluhuran hidup Muhammad adalah hidup manusia yang sudah begitu tinggi sejauh yang pernah dicapai oleh umat manusia.dikerjakanya (mereka berdoa). "Ya Tuhan Kami, janganlah Engka hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah Ya Tuhan Kam, janganlah Engka bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engka bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kam, janganlah Engka pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya beri ma'uflah kami ampunilah kami dan rahmatlah kami. Engkaulah penolong Karmi, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir." (Qur'an,2:286)

J. Nilai-nilai Islam dalam Budaya Indonesia
          Islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayanya. Karena Islam lahir dan berkembang dari negeri Arab, maka Islam yang masuk ke Indonesia tidakterlepas dari budaya Arabnya. Pada awal-awal masuknya dakwah Islam ke Indonesia dirasakan sangat sulit membedakan mana ajaran Islam dan mana budaya Arab, Masyarakat awam menyamakan antara perilaku yang ditampilkan oleh orang arab dengan perilaku ajaran Islam. Seolah-olah apa yang dilakukan oleh orang arab itu semua mencerminkan ajaran Islam, bahkan hingga kini budaya arab masih melekat pada tradisi masyarakat Indonesia.
        Dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia, para da’i mendakwahkan ajaran islam melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para wali ditanah jawa. Karena kehebatan para wali Allah dalam mengemas ajaran Islam dengan bahasa budaya setempat, sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai islam telah masuk dan menjadi tradisi dalam kehidupan seharihari mereka. Lebih jauh lagi bahwa nilai-nilai islam sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan mereka. Seperti dalam upacara-upacara ada dan dalam penggunaan bahasa sehari-hari Bahasa al-Qur'an arab sudah banyak masuk kedalam bahasa daerah bahkan kedalam bahasa Indonesia yang baku. Semua itu tanpa disadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ajaran islam.

                                                                   BAB III
                                                             KESMPULAN

          Secara umum arti kebudayaan ialah suatu hasil daya pemikiran dan pemerahan tenaga lahir manusia, ia adalah gabungan antara tenaga fikiran dengan tenaga lahir manusia ataupun hasil daripada gabungan tenaga batin dan tenaga lahir manusia Yang dimaksudkan gabungan antara tenaga batin (daya pemikiran) dengan tenaga lahir ialah suatu pemikiran manusia yang dilaksanakan dalam bentuk perbuatan. Maka hasil daripada gabungan inilah yang dikatakan kebudayaan.
        Dalam perkembangan dakwah islam di Indonesia, para da’i mendakwahkan ajaran islam melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para wali ditanah jawa. Karena kehebatan para wali Allah dalam mengemas ajaran islam dengan bahasa budaya setempat sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai islam telah masuk dan menjadi tradisi dalam kehidupan seharihari mereka. Lebih jauh lagi bahwa nilai-nilai islam sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan mereka. Seperti dalam upacara-upacara ada dan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa al-Qur'an arab sudah banyak masuk kedalam bahasa daerah bahkan kedalam bahasa Indonesia yang baku. Semua itu tanpa disadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ajaran islam

                                                             DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir, Muhammad 2005. Ilmu social Budaya Dasar Bandar Lampung Anggota IKAPI
Gazalba, Sidi. 1989, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologji dan Sosiografi, Jakarta: PT Bulan Bintang
Munhoha dkk. 1998, Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: UI Press.
Sudrajat Ajat dkk 2009. Din Al-Islam Pendidikan agama Islam di Perguruan Tingga Umnum, Yogyakarta: UNY Press.
Sujarwa 1998, Manusian dan Fenomena Budaya, Yogyakarta: Pustaka Fajar
Syam, Nur 2005. Islam Pesisir, Yogyakarta. LKS Yogyakarta.