MAKALAH TENTANG : ASAL USUL KEMUNCULAN SYI'AH

Monday, March 13, 2017 Diposkan oleh nggy it
                                                           PENDAHULUAN

         Pemikiran kalam belum muncul di zaman Nabi. Umat di masa itu menerima sepenuhnya penyampaian Nabi. Mereka tidak mempertanyakan secara filosofis apa yang diterima itu. Kalau terdapat kesamaran pemahaman, mereka langsung bertanya kepada Nabi dan umat pun merasa puas dan tenteram. Hal itu berubah setelah Nabi wafat. Nabi tempat bertanya sudah tidak ada. Pada waktu itu pengetahuan dan budaya umat semakin berkembang pesat karena terjadi persentuhan dengan berbagai umat dan budaya yang lebih maju. Penganut Islam sudah beragam dan sebagiannya telah menganut agama lain dan memiliki kebudayaan lama. Hal-hal yang diterima secara imani mulai dipertanyakan dan dianalisa.

        Dalam islam sebenarnya terdapat lebih dari satu pemikiran-pemikiran kalam. Namun yang akan dibahas pada makalah ini adalah Pemikiran Kalam aliran Syi’ah.

                                                           PEMBAHASAN

1.    Pengertian dan Asal Usul Kemunculan Syi’ah

         Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya.
      Mengenai kemunculan Syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mua’wiyah yang dikenal dengan Perang Shiffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali yang disebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali yaitu Khawarij. Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khilafah) Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thaliblah yang berhak menggantikan Nabi.
          Perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenai kalangan Syi’ah merupakan sesuatu yang wajar. Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah ‘perpecahan’ dalam islam yang memang mulai mencolok pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin. Tampaknya, syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, sedangkan Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahl al-bait muncul segera setelah wafatnya Nabi.
2.    Pemikiran Kalam Syi’ah
       Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, Syi’ah akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Asy-Syahrastani membagi kaum Syi’ah kepada lima golongan, yaitu golongan Al-Kisaniyyah, Al-Zaidiyyah, Al-Imamiyyah, Al-Ghaliyyah dan Al-Isma’iliyyah.
a.    Al-Kisaniyyah
     Pendiri kelompok Kisaniyyah adalah Kisan, seorang mantan pelayan Ali ibn Abi Thalib. Mereka sependapat bahwa agama merupakan ketaatan kepada pemimpin (Imam), karena para imam dapat menakwilkan ajaran-ajaran pokok agama seperti shalat, puasa, dan haji. Bahkan sebagian dari mereka ada yang meninggalkan perintah agama dan merasa cukup dengan menaati para imam. Sekte-sekte dalam golongan Al-Kisaniyyah ini adalah: Al-Mukhtariyyah, Al-Hasyimiyyah, Al-Bayaniyyah, dan Al-Rizamiyyah.
b.    Al-Zaidiyyah
      Golongan ini adalah pengikut Zaid ibn Ali ibn Husein ibn Ali ibn Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa rakyat berhak memilih pemimpin rohani mereka dari keturunan Rasulullah SAW, dengan demikian mereka menggabungkan prinsip hak pilih dengan prinsip yang membatasi kedudukan imam kepada keluarga Muhammad SAW. mereka juga menegaskan bahwa boleh memilih orang mafdhul (yang kurang dalam keutamaan), biarpun ada orang yang lebih utama. Sebagai konsekwensi dari prinsip ini, mereka menerima keimanan tiga orang khalifah yang pertama, yang umumnya tidak diakui oleh kaum Syi’ah yang lain. Menurut mereka sekalipun Ali ra yang paling utama dari semua sahabat Nabi SAW. dan lebih berhak atas jabatan imam, namun oleh karena alasan politik dan untuk menghindarkan kekacauan-kekacauan yang timbul setelah wafatnya Rasul diperlukan seseorang yang agak dewasa untuk memegang jabatan tersebut. Karena itu terhadap Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Zaid mengakuinya sebagai Khalifah yang sah karena Ali ra sendiri memberikan bai’atnya. Di samping itu mereka mengatakan bahwa kesalehan, kebenaran, pengetahuan dan kesucian merupakan syarat untuk menjadi imam.
      Penganut Syi’ah Zaidiyyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka jika dia belum bertobat dengan pertobatan yang sesungguhnya. Berbeda dengan Syi’ah lain, golongan Zaidiyyah menolak nikah mut’ah dan taqiyah. Kelompok Zaidiyyah ini terbagi menjadi tiga kelompok kecil, yaitu (1) Al-Jarudiyyah, (2) As-Sulaimaniyyah, (3)Batriyyah dan ash-Shalihiyyah berpandangan sangat mirip.
c.    Al-Imamiyyah
        Golongan ini muncul pada pertengahan abad ketiga Hijriyah yaitu setelah lahirnya Imam-imam yang dua belas dan munculnya pendapat bahwa Muhammad Al-Mahdi Al-Muntazhar telah menghilang pada tahun 260 H. Dinamakan Syi’ah Imamiyyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam. Imamiyyah adalah kelompok Syi’ah yang berpendapat bahwa Ali ibn Abi Thalib berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhlaknya, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. menurut mereka Penunjukan secara nash lebih tegas dan lebih kuat dari penunjukan semu. Golongan ini banyak mencetuskan Hadits-Hadits palsu dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan paham dan kehendak mereka.
      Di dalam sekte Al-Imamiyyah dikenal dengan konsep Usul Ad-Din. konsep ini menjadi akar atau fondasi pragmatisme agama yaitu:
1.    Tauhid (The Devine Unity)
      Tuhan adalah Esa baik esensi maupun eksistensi-Nya. Keesaan Tuhan adalah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendiri-Nya. Tuhan adalah qadim. Maksudnya, Tuhan bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Tuhan Maha Mendengar, selalu benar dan bebas berkehendak. Tuhan tidak membutuhkan sesuatu. Tidak dibatasi oleh ciptaan-Nya.
2.    Keadilan (The Devine Justice)
      Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah melalui perasaan. Manusia dapat menggunakan inderawi untuk melakukan perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jadi, manusia dapat memanfaatkan potensi berkehendak sebagai anugerah Tuhan untuk mewujudkan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
3.    Nubuwwah (Apotleship)
      Setiap makhluk sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari Tuhan maupun dari manusia. Dalam keyakinan Al-Imamiyyah, Tuhan telah mengutus 124.000 rasul untu memberikan petunjuk kepada manusia.
Al-Imamiyyah percaya tentang ajaran tauhid dengan kerasulan sejak Adam hingga Muhammad dan tidak ada nabi atau rasul setelah Muhammad. Mereka percaya adanya kiamat.
d.    Al-Ghaliyyah (Ekstrim)
      Al-Ghaliyyah adalah golongan ekstrem yang berlebihan dalam mensifati memberikan sifat para imam yang akhirnya menghilangkan sifat kemanusiaan pada diri para imam. Mereka menempatkan kedudukan imam sama dengan Tuhan, bahkan terkadang mereka samakan Tuhan dengan makhluk.
       Syahrastani membagi sekte Al-Ghaliyyah menjadi 11 sekte: As-Sabaiyah, Kamiliyyah, Al-Alabiyah, Al- Mughiriyyah, Al-Manshuriyyah, Al-Khaththabiyyah, Al-Kayaliyyah, Al-Hisyamiyyah, An-Nu’maniyyah, Yunusiyyah, An-Nushairiyyah, dan Al-Ishaqiyyah. Nama-nama sekte tersebut menggunakan nama tokoh yang membawa atau memimpinnya. Sekte-sekte ini pada awalnya hanya satu, yakni paham yang dibawa oleh Abdullahbin Saba’ yang mengajarkan bahwa Ali adalah Tuhan. Kemudian karena perbedaan prinsip dan ajaran, Syi’ah Al-Ghaliyyah terpecah menjadi beberapa sekte. Meskipun demikian, seluruh sekte ini pada prinsipnya menyepakati tentang hulul dan tanasukh.
       Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu tanasukh, bada’, raj’ah dan tasbih.
1.   Tanasukh
      Tanasukh adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad lain. Faham ini diambil dari falsafah Hindu. Al-Ghaliyyah menerapkan faham ini dalam konsep imamahnya, sehingga ada yang menyatakan seperti Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far bahwa roh Allah berpindah kepada Adam seterusnya kepada imam-imam secara turun temurun.
2.    Bada’
      Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya. Syahrastani menjelaskan lebih lanjut bahwa bada’, dalam pandang Al-Ghaliyyah, mempunyai beberapa arti. Bila berkaitan dengan ilmu, artinya menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan yang diketahui Allah. Bila berkaitan dengan kehendak, artinya memperlihatkan yang benar dengan menyalahi yang dikehendaki dan hukum yang diterapkan-Nya. Bila berkaitan dengan perintah, artinya memerintahkan hal lain yang bertentangan dengan perintah sebelumnya.
3.    Raj’ah
      Raj’ah yang masih ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghaliyyah mempercayai bahwa Imam Mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi. Faham raj’ah dan mahdiyah ini merupakan ajaran seluruh sekte dalam Syi’ah. Namun mereka berbeda pendapat tentang siapa yang akan kembali. Sebagian mengatakan bahwa yang akan kembali itu adalah Ali dan sebagian lagi mengatakan yang akan kembali adalah Ja’far As-Shaddiq, Muhammad bin Al-Hanafiyah bahkan ada yang mengatakan Mukhtar ats-Tsaqafi.
4.    Tasbih
      Tasbih artinya menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghaliyyah menyerupakan salah seorang imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk.
e.    Al-Isma’iliyyah
      Kaum Isma’iliyyah ini kadang-kadang disebut juga “Sab’iyun” (yang bertujuh), karena mereka hanya mengakui tujuh orang imam yaitu: (1) Ali ra, (2) Hasan, (3) Husein, (4) Ali Zainal Abidin, (5) Muhammad Al-Baqir, (6) Ja’far Ash-Shadiq dan (7) Ismail bin Ja’far.
     Para pengikut Syi’ah Isma’iliyyah percaya bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar seperti dijelaskan Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Islam. tujuh pilar tersebut adalah iman, taharah, shalat, zakat, saum, haji, dan jihad. Berkaitan dengan pilar (rukun) pertama, yaitu iman, Qadhi An-Nu’man (974 M) memerincinya sebagai berikut:
     Iman kepada Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah; iman kepada surga; iman kepada neraka; iman kepada hari kebangkitan; iman kepada hari pengadilan; iman kepada para nabi dan rasul; iman kepada imam, percaya, mengetahui, dan membenarkan iman zaman.

SIMPULAN

     Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya.
    Kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khilafah) Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thaliblah yang berhak menggantikan Nabi. Syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, memang baru muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, sedangkan Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahl al-bait muncul segera setelah wafatnya Nabi.
      Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, Syi’ah akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Asy-Syahrastani membagi kaum Syi’ah kepada lima golongan, yaitu golongan Al-Kisaniyyah, Al-Zaidiyyah, Al-Imamiyyah, Al-Ghaliyyah dan Al-Isma’iliyyah.

DAFTAR PUSTAKA


Rozak Abdul, Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001
Syukur Asywadie, Al-Milal Wa Al-Nihal, PT. Bina ilmu 2003
Aziz Mahmud, Ilmu Kalam, Medan, 1986

Post a Comment