--> MAKALAH TENTANG: PERANAN PENDIDIKAN DAN PROSES ISLAMISASI | KUMPULAN MAKALAH

Berbagi Tugas Sekolah Makalah dan Referensi

Wednesday, December 09, 2015

MAKALAH TENTANG: PERANAN PENDIDIKAN DAN PROSES ISLAMISASI

| Wednesday, December 09, 2015

DAFTAR ISI

Daftar Isi                                                                                                         Halaman
A.    Pendahuluan ……………………………………………………….......         1
B.     Pengertian Peranan Pendidikan Islam
Dalam Proses Islami ………………………………………………......          1
C.     Pembangunan Kualitas Manusia Indonesia ……………………….........          8
D.    Proses Penyebaran Agama Islam Indonesia ……………………….......           9
E.     Proses Islamisasi Di Indonesia …………………………………….......         10
F.      Era Globalisasi ……………………………………………………......         11
G.    Kesimpulan ……………………………………………………….......         11
Daftar Kepustakaan

PERANAN PENDIDIKAN ISLAM  DALAM PROSES ISLAMISASI
A.    Pendahuluan
Kandungan materi pelajaran dalam pendidikan Islam yang masih berkutat pada tujuan yang lebih bersifat ortodoksi diakibatkan adanya kesalahan dalam memahami konsep-konsep pendidikan yang masih bersifat dikotomis; Yakni pemilihan antara pendidikan agama dan pendidikan umum (sekular), bahkan mendudukkan keduanya secara diametral.
Kehadiran pendidikan Islam, baik ditinjau secara kelembagaan maupun nilai-nilai yang ingin dicapainya-masih sebatas memenuhi tuntutan bersifat formalitas dan bukan sebagai tuntutan yang yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk melahirkan manusia-manusia aktif penggerak sejarah.
Dalam perkembangan pendidikan Islam telah melahirkan dua pola pemikiran yang kontradiktif. Keduanya mengambil bentuk yang berbeda, baik pada aspek meteri, sistem pendekataan, atau dalam kelembagaan sekalipun,sebagai akumulasi dari respon sejarah pemikiran manusia dari masa ke masa terhadap adanya kebutuhan akan humanisasi.
B.     Pengertian Peranan Pendidikan Islam Dalam Proses Islamisasi   
Ada beberapa saluran proses saluran Islamisasi di Indonesia yaitu, pergadangan, perkawinan, kesenian, sufisme, dan pendidikan. Pembahasan ini akan lebih melihatnya dari peranan pendidikan dalam proses isalamisasi.
Sementara itu Fachry Ali dan Bakhtiar Effendy menguraian setidak-tidaknya terdapat tiga factor utama yang ikut mempercepat proses penyebaran Islam di Indonesia, yaitu:
1.      Karena ajaran Islam melaksanakan prinsif ketauhidan dalam sistem ketuhananya, suatu prinsip yang secara tegas menekankan ajaran Tuhan yang Maha Tunggal.
2.      Karena daya lentur (Fleksibel)  ajaran Islam dalam pengertian bahwa ia merupakan kodifikasi nilai-nilai yang universal.
3.      Pada gilirannya nanti, Islam oleh masyarakat Indonesia dianggap sebagai suatu institusi yang amat dominan untuk menghadapi dan melawan ekspentasi pengaruh Barat yang melalui kekuasaan-kekuasaan bangsa Portugis kemudian Belanda, mengobarkan penjajah dan menyebarkan agama Kristen.
Prof. Mahmud Yunus lebih memperinci tentang faktor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat diseluruh Indonesia pada masa permulaan, yaitu:
ü  Agama Islam tidak sempit dan Tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
ü     Sedikit tugas dan kewajiban islam
ü     Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit
ü    Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara sebaik-baiknya
ü  Penyiaran Islam itu dilakukan dengan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai kegolongan atas, yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: Berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.
Itulah beberapa faktor yang menyebabkan mudahnya proses Islamisasi ke pulauan Nusantara,sehingga pada gilirannya nanti jadi agama utama dan mayoritas di negeri ini.
Tentang proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui bermacam-macam kontak, misalnya kontak jual beli, kontak perkawinan dan kontak dakwah langsung, baik secara individual maupaun kolektif.
Dari situlah semacam proses pendidikan dan pengajaran Islam, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Materi pelajarannya yang pertama sekali syahadat. Sebab barang siapa yang sudah bersahadat berarti seseorang sudah menjadi Islam.
Pengajar-pengajar Islamyang mula-mula mengembangkan agama Islam (Pendidikan Islam adalah dengan cara berangsur-angsur dan mudah, sedikit demi  sedikit, pendeknya bila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, mengakui rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima, telah dianggap sebagai seorang muslim.
Berbicara tentang pendidikan tentu sebaiknya dimulai dari membicarakan apa sebetulnya esensi pendidikan tersebut. Dipandang dari sudut defenisi pendidikan yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan, dari sekian banyak itu banyak diambil kesimpulan bahwa hakikat pendidikan itu adalah proses pembentukan manusia ke arah yang dicita-citakan. Dengan demikian, pendidikan Islam, Proses pembentukan manusia sesuai dengan tuntunan Islam.
Dalam teori pendidikan dikemukakan paling tidak ada tiga halt yangditransferkan dari si pendidik kepada terdidik, yaitu transfer ilmu, transfer nilai, dan transfer perbuatan (Tranfer of knowledge, transfer of skill) di dalam proses pentransferan inilah berlangsungnya pendidikan.
Disebabkan itulah proses pendidikan itu bisa berlangsung secara formal, nonformal dan informal. Bila pendidikan itu diatur, dilaksanakan dengan pengaturan yang ketat seperti lamanya belajar, materi pelajaran, waktu, tingkatan, umur, pendidik, sertifikat, dan lain sebagainya hal seperti ini dapat disebut sebagai pendidikan formal. Selain itu ada juga proses pendidikan itu yang tidak    diatur sedemikian rigitnya seperti yang disebut terdahulu, maka hal itu dapat disebut sebagai pendidikan nonformal. Disamping itu ada pula jenis pendidikan yang lebih memberikan kepada proses pergaulan yang mendalam yang bersifat mempribadi antara sipendidik dengan siterdidik, seperti hubungan orang tua, tanpa disengaja dan dirancang menumbuhkan nilai-nilai (Value) kepada anaknya, hal yang seperti ini digolongkan kepada pendidikan informal.
Berdasarkan ungkapan diatas, dapat dimaklumi betapa luasnya ruang lingkup pendidikan, sehingga setiap perbuatan yang pada intinya pentrasperan ilmu, nilai, aktivitas, dan keterampilan dapat disebut dengan pendidikan.
Jika demikian, pemahaman yang diberikan terhadap pendidikan, maka para pedagang atau mubaligh tersebut adalah pendidik sebab mereka melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Dengan demikian, dapat pula dimaklumi bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam proses Islamisasi yang efektif di Indonesia.
Untuk mencari makna dan hakikat pendidikan, maka perlu dicari cirri-ciri esensial aktiviats pendidikan, sehingga dapat dipilih mana aktivitas pendidikan dan mana yang bukan, untuk perlu dicari unsur pemberi dan penerima. Unsur pemberi dan penerima. Unsur pemberi dan penerima baru bermakna pendidikan kalau dibarengi unsur kejuan yang baik tiga, yaitu adanya tujuan baik. Jika hanya hubungan pemberi dan penerima yang ada ini belum dapat dikatakan aktivitas pendidikan, tanpa dibarengi tujuan baik, sebab hubungan antara penjual dan pemberikan majikan dan buruh, juga adalah hubungan antara pemberi dan penerima dan hubungan seperti itu belum dikatakan aktivitas pendidikan.
Unsur berikutnya yakni unsur ke empat cara atau jalan yang baik. Hal ini terkait nilai. Selanjutnya unsur kelima adalah konteks yang positif. Upaya pendidik adalah menumbuhkan konteks positif dengan menjauhi konteks negatif.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari unsur dasar tersebut, pendidikan dapat diteruskan sebagai aktivitas yang yang teraktif antara pendidik dan subjek didik untuk mencapai tujuan baik dengan cara baik dan konteks positif. Dengan demikian, pendidikan Islam di Indonesia ini telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia, dan dengan demikian pula pendidikan Islam telah memainkan peranannya dalam proses, Islamisasi di Indonesia.
Peranan kerajaan-kerajaan Islam dalam mendorong berkembangnya pemikiran Islam dapat diambil sampelnya kerajaan Islam di Sumatera, yaitu  Aceh dan kerajaan Islam di Jawa yaitu Mataram.
Peranan kerajaan Islam di Aceh dalam bidang pendidikan dapat dilihat dalam tulisan Hasjmy “kebudayaan Aceh Dalam Sejarah”. Beliau mengemukakan di antara lembaga-lembaga Negara yang tersebar dalam Qanun Meukuta Alam ada tiga lembaga yang bidang tugasnya meliputi masalah pendidikan dan ilmu pengetahaun, yaitu:
1.      Balai Setia Hukama
Balai ini dapat disamakan dengan lembaga ilmu pengetahuan tempat berkumpulnya para sarjana, hukum (ahli piker) untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Yaitu:
1.      Balai Setia Hukama
Balai ini dapat disamakan dengan jawatan pendidikan yang membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.      Balai Setia Ulama
Balai ini dapat disamakan dengan jawatan pendidikan yang membahas masalah pendidikan.
3.      Balai Jamaah Himpunan Ulama
Balai ini dapat disamakan studi klub tempat para ulama/sarjana untuk bertukar pikiran membahas masalah-masalah pendidikan dan Ilmu pengetahuan.

Dalam bidang pendidikan Islam, perhatian Sultan Agung cukup besar. Pada zaman itu telah dibagi tingkatan-tingkatan pesantren itu kepada beberapa tingkatan, yaitu:
Ø Tingkatan pengajian Alqur’an, tingkatan ini terdapat pada setiap desa, yang diajarkan meliputi hurup hijaiyah, membaca Al-quran berzanji, Rukun Islam dan Rukun Iman.
Ø Tingkatan pengajian Kitab. Para santri belajar pada tingkat ini ialah mereka yang telah khotam Alquran. Tempat belajar biasanya diserambi masjid dan mereka umumnya mondok. Guru yang mengajar disini diberi gelar Kiyai Anom.
Ø Tingkat pesantren besar. Tingkat ini didirikan didaerah kabupaten sebagai sebagai lanjutan Kitab-Kitab yang diajarkan disini adalah kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kedalam Bahasa Daerah. Cabang-cabang ilmu yang diajarkan adalah Fiqih,Tafsir, Hadist, Ilmu Kalam, Tasawuf dan sebagainya.
Ø Pondok Pesantren tingkat keahlian (Takhassus). Ilmu yang dipelajari pada tingkat ini adalah satu cabang ilmu dengan secara mendalam. Tingkat ini adalah tingkat spesialisis.
            Dan adapun peranan ilmu pendidikan menurut Ahmad dan Uhbiyati (1991:76-77). Mengemukakan pentingnya mempelajari ilmu pendidikan sebagai berikut:
1.   Untuk mengembangkan individu
      Seperti diketahui bahwa manusia sebagai mahluk berbudaya dapat mengembangkan dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga mampu membentuk norma dan tatanan hidu yang didasari oleh nilai-nilai ilmu kesejahteraan hidup, perorangan maupun untuk kehidupan bersama.
2.   Bagi pendidik
Pengetahuan tentang pendidikan di dalam pendidikan tersebut menjadi pendoman, pengontrol atau pengawas bagi pendidik yang calon pendidik.
      Dengan memahami pendidikan, maka setiap pendidikan dapat:
a.       Memudahkan praktek pendidikan
b.      Menimbulkan rasa kecintaan pada diri pendidik terhadap tugasnya.
c.       Dapat memahami banyak kesukaran dan kesalahan praktek pendidikan.
                            Selain itu, bila diperhatikan dalam praktek pendidikan maka ilmu pendidikan melaksanakan peranan sebagai berikut:
·         Peranan Spesialisasi
Peranan bermaksud bahwa ilmu pendidikan yang menyediakan materi bidang ilmu dan perangkat pengetahuan yang wajib dikuasai oleh calon guru sebagai tenaga kependidikan.
·         Peranan Profesional
Dalam hal ini ilmu pendidikan merupakan alat dalam kerangka sistem penyampaian yang perlu dikuasai oleh setiap calon pada umumnya.
·         Peranan Personalisasi
Peranan kaitan ini ilmu pendidikan akan membentuk kepribadian guru sebagai warga Negara yang baik dan sebagai anggota profesi yang baik. Peranan yang baik harus didasari oleh aspek normatif yang dimiliki oleh ilmu pendidikan atau sendiri.
·         Peranan Sosial
Ilmu pendidikan menyediakan kemungkinan bagi setiap guru memberikan pengabdiannya kepada masyarakat dalam bidang ilmu pendidikan. Dalam hal ini pengadilan dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat     ( Hamalik, 1989:5)
                Keempat peranan tersebut diatas pada hakikatnya berjalan sama-sama saling terkait satu sama lain, penguasaan spesialisasi ilmu pendidikan sekaligus memberikan petunjuk tentang kemampuan propesional yang menjadi syarat dalam membentuk calon guru maka  ilmu akan bermanfaat bagi proses pendidikan menjadikan calon guru fungsional dan efektif.
                Islamisasi dalam arti neo-modernis, bertolak dari landasan metodologis sebagai berikut : (1) Persolan-persoalan kontemporer umat Islam harus dicari penjelasannya dari tradisi, dari hasil ijtihat para ulama terdahulu hingga sunnah, yang merupakan hasil penafsiran terhadap al-qur’an; (2) Bila dalam tradisi tidak ditemukan jawabannya yang sesuai dengan tuntutan masyarakat kontemporer, maka selanjutnya menelaah konteks sosiohistoris dari ayat-ayat. Alquran yang dijadikan sasaran ijitihat ulama tersebut;(3) Melalui telaah historis akan terungkap pesan moral ALquran sebenarnya, yang merupakan etika  moral social Alquran;(4) Dari etika sosial Alquran itu kemudian diturunkan dalam konteks umat sekarang dengan bantuan hasil-hasil studi yang cermat dari ilmu pengetahuan atas persoalan yang dihadapi umat tersebut: (5) Fungsi Alquran disini bersifat evaluatif, legitimatif hingga member pendasaran dan arahan moral terhadap persoalan yang akan ditanggulangi (Muzani, Ed, 1993).
                Islamisasi pengetahuan, dengan demikian, mengandung makna mengakaji dari mengkritis ulang terhadap produk ijitihad dari para ulama dan juga produk-produk ilmuan no muslim terdahulu di bidang ilmu pengetahuan, dengan cara melakukan verifikasi atau falsifikasi agar ditemukan relavan atau tidaknya pandangan, konsep, teori-teori mereka dengan nilai-nilai universal Islam dalam konteks ruang dan zamannya. Jika relavan, perlu berusaha menggali dan mencari alternatif yang baru dan konteks ruang dan zamannya sesuai dengan pesan-pesan moral dan nilai-nilai universal islam.
                Islamisasi yang dimaksud upaya membangun kembali semangat umat Islam dalam berilmu pengetahuan, mengembangkannya melalui kebebasan penalaran intelekktual dan kajian nasional – emperik atau semangat pengembangan ilmiah (scientific inquri) dan filosofis, yang merupakan perwujudan dari sikap concern, loyal dan komitmen terhadap doktrin-doktrin dan nilai-nilai medasar yang terkadung dalam Al-quran dan Sunnah.
C.     Pembangunan Kualitas Manusia Indonesia
         Hakikat pembangunan sumber daya manusia adalah bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia maka pencepatan pembangunan akan terwujud . Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang memiliki keunggulan dalam pembangunan, walupun mereka memiliki keunggulan dalam pembangunan, walaupun mereka memiliki kekurangan dalam sumber daya alam.
                Sekarang kita bertanya tentang kualitas apa sajakah yang perlu dimiliki oleh manusia Indonesia? Untuk itu kita perlu merujuk kepada tujuan pendidikan yang terutang dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003. Di dalam Undang-undang tersebut dikemukakan beberapa kualitas yang di capai:
§  Manusia yang beriman dapat bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa
§  Berakhlak Mulia
§  Sehat, Berilmu, cakap, Kreatif
§  Menjadi warga Negara yang didemokrasikan.
            Untuk mencapai kualitas diatas perlu direncanakan lewat tiga jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal lewat pendidikan yang diandalkan masyarakat misalnya keterampilan dan lain-lain. Jalur pendidikan informal lewat pendidikan di rumah tangga.
Baik secara teologis maupun sosiologis, agama dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami dunia. Dalam konteks itu, hamper tak ada kesulitan bagi agama apapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis, lebih-lebih Islam, hal itu dikarenakan oleh watak omnipresent agama. Yaitu, agama, baik melalui symbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya “hadir di mana-mana”. Ikut mempengaruhi, bahkan membentuk struktur sosial, budaya, ekonomi dan politik. Dengan ciri itu, dipahami bahwa dimanapun suatu berada, ia diharapkan dapat memberi penduan nilai bagi seluruh diskursus kegiatan manusia-baik yang bersifat sosial budaya , ekonomi, maupun politik. Sementara itu, secara sosiologis, tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam prose transformasi dan modernisasi.
1.      Tercapainya tujuan hablum minallah    ( Hubungan dengan Allah)
2.      Tercapainya tujuan hablum Minnanas   ( Hubungan dengan Manusia)
3.      Tercapainya tujuan hablum minal’alam ( Hubungan dengan Alam)
D.    Proses penyebaran agama Islam di Indonesia
            Proses penyebaran agama yang dilakukan di Indonesia dengan cara, yaitu melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik, tasawuf, yang kesemuanya mendukung meluasnya ajaran agama Islam.

1.      Perdagangan
      Pada abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para Pedagang Islam dari Arab, Persia. Dan India. Mereka telah ambil dalam bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Hal ini konsekuensinya logisnya menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dan para pedagang Islam. Di samping berdagang, sebagai seorang muslim juga mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang Islam juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada orang lain. Dengan cara tersebut, banyak pedagang Indonesia memeluk Islam dan mereka pun menyebarkan agama Islam dan budaya Islam yang baru dianutnya kepada orang lain. Dengan demikian, secara bertahap agama dan budaya Islam terbesar dari pedagang Arab, Persia, India kepada bangsa Indonesia. Proses peyebaran Islam melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif dibanding cara lainnya.

2.      Perkawinan
Kedudukan ekonomi dan sosial para pedagang yang sudah menetap makin membaik. Para pedagang itu menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa serta. Para pedagang itu kemudian menikahi gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk Islam. Cara itupun tidak mengalami kesulitan. Misalnya, perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Gede Manila, putri Tumenggung Wilatikta; Perkawinan antara Raja Brawi, jaya dengan putri Jeumpa yang beragama Islam kemudian berputra Raden Patah yang pada akhirnya menjadi Raja Demak.
3.      Politik
Seorang raja mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar dan memegang peranan penting dalam proses Islamisasi. Jika raja sebuah kerajaan memeluk agama Islam, otomatis rakyatnya akan berbondong memeluk agama Islam.
4.      Pendidikan
Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubalig yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Dan didalam pesantren itulah tempat pemuda pemudi menuntut ilmu yang berhubungan dengan agama Islam.
5.      Seni Budaya
Perkembangan Islam dapat  melalui seni budaya, seperti bangunan (masjid), seni pahat, seni tari, seni music dan seni sastra.
6.      Taswuf
Seorang Sufi Biasa dikenal dengan hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Para sufi biasanya memiliki keahlian yang membantu masyarakat dan menyebarkan agama Islam. Para Sufi masa itu diantaranya Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung Jawa.
      Dengan melalui saluran diatas, agama Islam dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat dengan baik pada abad ke -13. Dan faktor-faktor yang menyebabkan Islam cepat berkembang di Indonesia antara lain :
  
·         Syarat masuk Islam hanya dilakukan dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat;
·         Tata cara beribadahnya Islam sangat sederhana;
·         Agama yang menyebar ke Indonesia disesuaikan dengan kebudayaan Indonesia;
·         Penyebaran Islam dilakukan secara damai.
E.     Proses Islamisasi Di Indonesia
Proses persebaran Islam di Indonesia berlangsung lancar relati damai. Kelancaran ini dikarenakan syarat-syarat untuk memeluk Islam tidaklah sukar. Seseorang dianggap telah menjadi muslim bila ia mengucapkan dua kalimat syahdat, yaitu pengakuan bahwa “Tidka Ada Tuhan Selian Allah Dan Nabi Muhammad Utusan Allah” Upacara-upacara dalam Islam juga cenderung lebih sederhana dari pada upacara dalam agama Hindu dan Buddha.
F.      Era Globalisasi
Globalisasi adalah proses pertumbuhan Negara-negara maju, yaitu Amerika, Eropa dan Jepang melakukan ekspansi besar-besaran; kemudian berusaha mendominir dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dam ekonomi.
Pengaruh mereka di segala bidang terhadap Negara-negara baru berkembang untuk maju secara teknis, serta menjadi lebih sejahtera secara material. Sedangkan dampak negatifnya antara lain berupa: (1) munculnya teknokrasi dan tirani yang sangat berkuasa dan;(2) didukung oleh alat-alat modern dan persenjataan yang canggih.

Penutup
G.    Kesimpulan
Sementara itu, secara sosiologi, tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan modrenisasi.
-          Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah)
-          Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia)
-          Tercapainya tujuan hablum minal,ala( hubungan dengan alam)
Proses penyebaran agama islam di Indonesia
Proses penyebaran agama yang dilakukan di Indonesia dengan cara, yaitu melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik, kesenian, tasawuf, yang kesemuanya mendukung meluasnya ajaran agama Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo
           Persada, 1995.
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada:
            2006
Putra Haidar Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Jakarta: Putra Grafindo: 2007
Putra Haidar Daulay, Dinamika Pendidikan Islam, Bandung: Citapustaka Media,
            2004 ,
Syarifuddin, Ilmu Pendidikan, Bandung: Citapustaka  Media, 2005.
Umar Muhammad At-Toumy Asy-Syaibani,.  Falsafah atTarbiyah al-Islamiyyah. Trabulus: Asy-Syirkah al-Ammah. Bandung: 1975.

Related Posts

No comments:

Post a Comment