CONTOH HASIL MINI RISET PBL IVO

Monday, March 20, 2017 Diposkan oleh nggy it
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
          Guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri setiap anak didik. Tidak ada seorang gurupun yang mengharapkan anak didiknya menjadi sampah masyarakat. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
        Untuk mencapai tujuan seperti yang diterangkan di atas, maka guru hendaklah memiliki ilmu sebanyak-banyaknya dalam menciptakan insan-insan atau anak didik yang nantinya diharapkan berguna bagi nusa dan bangsa serta agama. Sesuai dengan harapan dan cita-cita guru, orang tua, masyarakat dan juga pemerintah.
Guru merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajran yang diharapkan maka dalam proses pembelajaran diperlukan berbagai teknik dan penggunaan metode atau pendekatan yang sesuai dengan tema pembelajaran serta langkah-langkah yang akan dilakukan dalam menyampaikan materi tersebut sewaktu proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat tanggap dan mudah menyerap apa yang disampaikan oleh guru.
      Kenyataan dalam dunia pendidikan banyak sekali permasalahan dalam proses pembelajaran yang dihadapi guru, antara lain kurangnya perhatian anak menerima pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan sebagian besar hanya metode ceramah saja, tanpa menggunakan alat peraga dan tidak melibatkan siswa, sehingga siswa merasa bosan. Hal ini menyebabkan perolehan hasil belajar yang kurang baik bagi siswa.
        Demikian pula halnya dengan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V “Madinah” Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan, yang kurang memahami materi pembelajaran IPA. Hal ini terbukti melalui perolehan nilai dalam melakukan tes yang diberikan guru. Hanya 50% saja dari siswa menguasai materi IPA yang disampaikan.
     Untuk itu, peniliti merasa perlu diadakan pembenahan dalam penyampaian materi pada proses pembelajaran. Dengan melihat pentingnya pembenahan penyampaian/penyajian pada mata pelajaran ini, maka penulis mengadakan penelitian terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah. Dengan pendekatan ini peneliti ingin mengetahui keberhasilan yang akan dicapai dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Dan judul dari penelitian ini adalah: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Melalui Pendekatan Problem Based Learning Kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan Tahun Pembelajaran 2015/2016”.

B.    Rumusan Masalah
        Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah: “Apakah dengan menerapkan pendekatan Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan”.

C.    Tujuan Penelitian
      Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan dengan menerapkan pendekatan Problem Based Learning.

                                                                       BAB II
                                                            KAJIAN TEORITIS

A.    Pendekatan Problem Based Learning
     Pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
        Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
     Sehingga dapat diartikan bahwa PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL. PBL merupakan satu proses pembelajaran di mana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut.  Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya.
      Peran guru, peserta didik  dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan berikut ini :
Guru Sebagi Pelatih    Peserta Didik Sebagai
Problem Solver    Masalah Sebagai Awal Tantangan Dan Motivasi
•    Asking about thinking
(bertanya tentang pemikiran)
•    Memonitor pembelajaran
•    Probing (menantang peserta didik untuk berfikir)
•    Menjaga agar peserta didik terlibat
•    Mengatur dinamika kelompok
•    Menjaga berlangsungnya proses.    •    Peserta yang aktif
•    Terlibat langsung dalam pembelajaran
•    Membangun pembelajaran    •    Menarik untuk dipecahkan
•    Menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari.

B.    Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning

Fase 1: Mengorientasikan Siswa pada Masalah
     Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa. Serta dijelaskan bagaiman guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu sebagai berikut:
1.    Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kapada    belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi siswa yang mandiri.
2.    Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar” sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan sering kali bertentangan.
3.    Selama tahap peyelidikan, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi.
4.    Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan.
Fase 2 : Mengorganisasikan Siswa Untuk Belajar
      Di samping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerja sama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa diman masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan maslah yang berbeda.
Fase 3 : Membantu Penyelidikan Mandiri Dan Kelompok
       Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual)  sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakkan dan membangun ide mereka sendiri.
Fase 4 : Mengembangkan Dan Menyajikan Artefak (Hasil Karya) Dan Mempamerkannya
         Tahap peyelidikan diikut dengan menciptakan artefak (hasil karya) dan pameran. Artefak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bias suatu video tape (menunjukan situasi masalah dan pemecahan yang usulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya ), program computer dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artefak sangat dipengaruhi tingkat berfikir siswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pameran ini melibatkan siswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
Fase 5 : Analisis Dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah
        Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri danketerampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta siswa untuk merekontruksiskan pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.

                                                                      BAB III
                                                       METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
      Sebagaimana yang tercantum dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya dalam penelitian ini, yaitu meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa tentang perubahan sifat benda melalui penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem based learning di kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan, Jl. William Iskandar No.7C, Kel. Sidoredjo, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Prov. Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan selama dua hari, yaitu pada tanggal 18 dan 20 November 2015.

B.    Subjek dan Objek Penelitian
     Subjek dalam penelitian tindakan (action research) ini adalah siswa kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan Tahun Pembelajaran 2015/2016 yang berjumlah 37 orang yang terdiri dari 14 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswa perempuan. Sedangkan objek penelitian ini adalah tindakan sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Perubahan Sifat Benda Melalui Pendekatan Problem Based Learning.

C.    Rancangan Penelitian

      Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap pelaksanaan tindakan yang disusun secara sistematis, dengan tujuan agar penelitian ini lebih terarah dan dapat dilaksanakan sesuai dengan prosedur sebagai berikut:
1.    Perencanaan Tindakan (Planning)
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah membuat RPP pembelajaran dalam bentuk karakteristik pendekatan problem based learning.
2.    Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, kegiatan yang dilakukan adalah meminta izin kepada pihak sekolah untuk melakukan mini riset, kemudian mengembangkan dan melaksanakan materi ajar tentang perubahan sifat benda dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pendekatan problem based learning, memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan berinteraksi serta melakukan diskusi dan praktek pengamatan langsung terhadap perubahan sifat benda untuk memahami pelajaran tersebut, kemudian memberikan tes untuk melihat hasil belajar siswa dalam memahami pelajaran.
3.    Pengamatan
Pada tahap pengamatan ini pula, pengamat mengamati proses tindakan pembelajaran.
4.    Refleksi dan Evaluasi
Dalam tahap refleksi dan evaluasi ini yang dilakukan peneliti adalah menemukan perubahan yang mengarah pada peningkatan proses pembelajaran (tindakan dan hasil belajar siswa setelah pelaksanaan tindakan), serta menganalisis dan memperbaiki hal-hal yag terjadi pada tindakan.
D.    Instrumen Penelitian
Dalam penelitian tindakan ini, alat pengumpulan data yang digunakan penulis ialah:
1)    Tes
Tes diberikan untuk mengetahui atau mendapatkan data tentang hasil belajar siswa. Tes yang diberikan berupa soal yang berkaitan dengan perubahan sifat benda. Tes ini mengukur tingkat kemampuan siswa dalam memahami konsep materi IPA yang disampaikan dan menggunakan pendekatan problem based learning.
2)    Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. Observasi dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian tindakan dengan rencana yang telah disusun dan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang sesuai dengan yang dikehendaki.

                                                                          BAB IV
                                                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Hasil Penelitian
        Pada pertemuan awal siswa diberikan pretest sebelum diberikan tindakan, untuk mengetahui hasil belajar awal siswa pada materi perubahan sifat benda. Hasil pretes siswa, diperoleh simpulan bahwa siswa banyak yang tidak dapat menyelesaikan soal-soal karena belum memahami benda dan sifatnya.
Hasil jawaban siswa terhadap Tes Awal (pretest)
        Berdasarkan pretest yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap materi perubahan sifat benda. Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan pada pretest dapat dilihat dari keberhasilan siswa dalam menyelesaikan setiap soal masih rendah. Hal ini dibuktikan dari banyaknya kesalahan siswa dalam menafsirkan benda dan sifatnya.
Oleh sebab itu, peneliti melaksanakan perbaikan pengajaran. Dalam hal ini peneliti yang bertindak sebagai guru menjelaskan materi Perubahan Sifat Benda secara sistematis dengan menggunakan pendekatan problem based learning agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami Perubahan Sifat Benda.
Hasil jawaban siswa terhadap Postest
        Sejalan dilakukannya pembelajaran IPA yang telah disampaikan oleh peneliti yang berperan sebagai guru, ternyata pemahaman siswa terhadap materi Perubahan Sifat Benda meningkat. Sebagian besar siswa lulus dalam tes.
        Dengan demikian penggunaan pendekatan problem based learning dapat dinyatakan bahwa hasil belajar atau pemahaman siswa meningkat dalam materi Perubahan Sifat Benda.

B. Analisis Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dan setelah dilakukan analisis maka dapat dilihat bahwa penggunaan pendekatan problem based learning dapat meningkatkan kreativitas siswa dan hasil belajar dan pemahaman siswa dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada materi Perubahan Sifat Benda di kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan.

C. Pembahasan
         Melalui pendekatan problem based learning dalam memahami materi perubahan sifat benda, hasil belajar dan pemahaman siswa sudah mengalami peningkatan dan terlaksana dengan baik dan optimal walaupun dalam pelaksanaannya ada sebagian kecil siswa yang ribut dan bermain ketika proses belajar mengajar yang berlangsung. Hasil penelitian, pada saat pretest sebelum diberikan tindakan sebagian besar siswa kurang memahami materi perubahan sifat benda. Dan setelah diberikan tindakan yaitu dengan membelajarkan IPA pada materi perubahan sifat benda dengan menggunakan pendekatan problem based learning pemahaman siswa tentang materi tersebut jauh lebih meningkat. Hal ini dikarenakan pada proses pembelajarannya siswa dihadapkan langsung dengan materi berdasarkan suatu permasalahan. Yang dimana siswa antusias dan partisipasif serta mengembangkan kreativitasnya dalam belajar.
        Pembelajaran ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pendekatan problem based learning dapat meminimalkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dan mengatasi kesulitan kesulitan siswa serta yang utama dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal tentang perubahan sifat benda pada pelajaran ilmu pengetahuan alam.

                                                                       BAB V
                                                     SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
          Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dalam BAB IV dapat diambil simpulan bahwa:
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa pada pelajaran IPA materi perubahan sifat benda di kelas V Madinah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan hasil pretest dengan hasil postest. Maka dapat disimpulkan bahwa sebelum dilakukan tindakan, hasil belajar atau pemahaman siswa tentang materi masih rendah, setelah diadakan tindakan siswa sudah mengalami peningkatan dan sudah paham dalam mengikuti materi yang disampaikan.

B. Saran

Berdasarkan simpulan dari penelitian ini, peneliti menyarankan:
1.    Bagi guru yang menerapkan pembelajaran problem based learning hendaknya lebih teliti dalam mengemas materi pembelajaran semenarik mungkin, sehingga siswa tertarik dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2.    Perlu diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui pendekatan pembelajaran lainnya yang dapat digunakan untuk lebih mempermudah pemahaman pada materi pembelajaran IPA yang lainnya.

                                                            DAFTAR PUSTAKA
Al Rasyidin dan Wahyuddin Nur Nasution (2011), Teori Belajar Dan Pembelajaran, Medan: Perdana Publishing.
Djamarah, Syaiful bahri (2002), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan.
Mansur, dkk (1981), Metodologi Penelitian, Jakarta: Forum.
Suciatai, dkk (2007), Belajar dan Pembelajaran 2, Jakarta: Universitas Terbuka, Cetakan Ke-17.
Syamsuddin Makmun Abin (2006), Psikologi Kependidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Post a Comment